Senin, 06 Oktober 2014

Tinjauan Novel “Bumi Cinta” Dari Prespektif Pendidikan Karakter


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini, dikalangan publik sedang beredar topik pembicaraan dalam dunia pendidikan, yaitu perbincangan mengenai pendidikan karakter. Bahkan Mendiknas memiliki wacana untuk menempatkan metode ini dalam setiap lembaga pendidikan, karena mereka menganggap bahwa selain mengasah intelektualitas  pesertadidik diperlukan juga pendidikan karakter yang dapat membantu kelancaran proses pendidikan bahkan dapat menambah mutu pendidikan di negara berkembang ini.
Pada kesempatan kali ini, kami hendak memaparkan sedikit mengenai hakikat dari pendidikan karakter dan  segala komponen yang berkaitan dengan itu. Selain itu kami mencoba meninjau relevansi novel “Bumi Cinta” karya Habiburahman El-Shirazy dengan pendidikan karakter. Karena didalam novel tersebut dideskripsikan karakter yang dimiliki oleh seorang mahasiswa yang melakukan risetnya di negara Rusia, guna menyelesaikan tugas S3-nya dengan mengalami banyak cobaan yang amat menggiurkan apabila dihadapi oleh kita sebagai orang awam.
Pada novel tersebut pula kita dapat mengetahui peranan dalam pendidikan karakter. Dalam novel tersebut kita dapatkan tokoh Ayasy, yang memiliki karakter yang kuat.Karakter ini dapat membantu “mengamankan” dirinya dari pergaulan bebas di “dunia baru”.Ini lah hasil dari pendidikan karakter dia ketika di pesantren dahulu. Dan dia dapat memepertahankan identitas dan jati dirinya sebagai orang  Timur yang memiliki etika dan karakter yang berbeda dengan orang  Barat.




B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat kita simpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      ApakahPengertian dari pendidikan karakter?
2.      Apakah sikap yang harus dimiliki dalam pendidikan karakter?
3.      Bagaimana relevansi novel “Bumi Cinta” karya Habiburahman El-Shirazy dengan pendidikan karakter?
4.      Apakah hikmah yang dapat diambil dari novel “Bumi Cinta” yang berkaitan dengan pendidikan karakter guna peningkatan kualitas pendidikan di indonesia?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada segenap pendidik, peserta didik, dan staf yang bekerja di sekolah yang meliputi komponen kognitif, psikomotorik, afektif untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil[1]. Adapun pengertian yang lainnya, pendidikan karakter merupakan proses pengembangan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik sehingga terinternalisasi dan tercermin dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif[2].
Jadi pendidikan karakter merupakan penanaman nilai-nilai kebaikan kepada seseorang; atau yang biasa kita kenal dengan akhlak karimah. Dan idealnya penanaman ini dilakukan semenjak kecil, sehingga anak atau seseorang itu menjadikan akhlak karimah itu sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Namun demikian pendidikan karakter juga harus dilakukan secara berkesinambungan, tidak boleh berhenti pada jenjang tertentu.
Tujuan dari pendidikan karakter yakni menjadikan seseorang atau peserta didik mampu memahami dan membedakan antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang bermoral atau bejat, dan mana yang sesuai dengan etika di masyarakat. Tidak berhenti pada sebuah pemahaman saja, pendidikan karakter ini juga merupakan usaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian diharapkan dapat menjadi sebuah kebiasaan yang mendarah daging di masyarakat ( menjadi karakter atau watak).



Pendidikan karakter hari ini sangat diperlukan, hal ini berdasarkan kenyataan yang ada bahwa Orang Indonesia hari ini tidak sedikit yang melupakan karakter asal mereka. Hal ini mungkin merupakan dampak dari globalisasi, westernisasi dan modernisasi yang beujung pada sikap hedonisme dan kebebasan yang keterlaluan. Tapi bukan di sini kita akan membahas hal tersebut. Namun yang jelas dampak dari semua itu dapat kita lihat pada kehidupan orang di Indonesia. Dimana kita ketahui bahwa orang Indonesia adalah orang yang memiliki adat ketimuran yang cenderung lebih sopan, ramah, dan beretika. Namun dengan adanya westernisasi kita dapat lihat banyak orang Indonesia yang melupakan hal-hal tersebut. Bahkan yang dulu di anggap tabu di masyarakat sekarang menjadi hal yang lumrah. Dahulu orang yang hamil di luar nikah itu menjadi sebuah aib di keluarga dan masyarakat, namun sekarang dianggap hal yang lumrah dan biasa. Dahulu seorang wanita akan merasa malu untuk berciuman dengan pacarnya, namun sekarang dengan atas nama cinta dan kebebasan, berciuman di depan umum dan bahkan berzina pun atas nama cinta biasa dilakukan.
Sebenarnya masyarakat itu mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Masyarakat pun dapat membedakannya, lalu kenapa mereka seolah-olah tidak dapat mengetahui dan membedakannya. Hal ini karena karakter mereka yang mulai hilang digerus dengan globalisasi, westernisasi dan kebebasan. Dapat kita ketahui korupsi adalah seuatu yang tercela, dan semua orang pun paham hal ini, bahkan anak kecilpun tahu hal itu. Lalu kenapa masih banyak orang yang korupsi. Hal ini tidak lain karena karakter sebagai orang timur telah luntur bahkan hilang.
Maka hari ini diperlukanlah solusi yang tepat atas kebobrokan yang terjadi di masyarakat. Dan salah satunya yakni pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter yang mantap dan kuat akan menjadikan seseorang dapat memegang kebenaran dan prinsipnya dengan kokoh. Karena kita ketahui pendidikan yang mengasah otak saja tanpa mengasah hati (karakter) akan menghasilkan budaya membodohi orang lain. Dengan pendidikan karakter pula akan menjadikan seseorang tidak mudah terombang-ambing dengan situasi atau keadaan yang baru.

B.     Sikap yang harus ada dalam Pendidikan Karakter
Adapun sikap yang harus dimiliki dalam pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
1.      Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2.      Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian
3.      Kejujuran
4.      Hormat dan santun
5.      Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama
6.      Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah
7.      Kepemimpinan dan keadilan
8.      Baik dan rendah hati
9.      Toleransi, cinta damai, dan persatuan[3]
Kesembilan karakter tersebut haruslah ditumbuhkan sejak dini sehingga akan menimbulkan kebiasaan yang positif kepada pendidik dan peserta didik. Selain itu komponen-komponen yang ikut terlibat dalam lembaga pendidikan itu, hendaklah memberikan partisipasi terhadap proses pendidikan karakter yang akhirnya dapat memberikan hasil yang luar biasa sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter.
Sebenarnya pendidikan karakter itu lebih luas cakupannya dari hal-hal di atas. Namun setidaknya, hal di atas dapat mewakili dari sikap yang harus ada pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak hanya terbatas pada pemahaman dan penanaman saja tetapi lebih condong pada aplikasi dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Maka diperlukanlah pula lingkungan yang mendukung tersebut, yang mana salah satunya sekolah.
Maka bagi seorang guru dalam menilai peserta didiknya tidak boleh hanya berdasarkan penilaian angka atau nominal dari hasil ujian. Tetapi dia harus dapat bersikap bijak terhadap permasalahan ini. Karena biasanya dalam pendidikan hari ini penilaian hanya berfokus pada nominal hasil ujian bukan pada bagaimana keadaan atau hasil dari pendidikan.Apakah telah menjadikan peserta didik menjadi insan yang cerdas secara akal, social dan emosional.

C.    Relevansi novel “Bumi Cinta” dengan Pendidikan Karakter
Nilai-nilai yang terkandung dalam novel “Bumi Cinta” dapat digolongkan menjadi empat bagian, yaitu: 1) Nilai Pendidikan terhadap Allah SWT, 2) Nilai Pendidikan terhadap diri sendiri, 3) Nilai pendidikan terhadap lingkungan. Adapun penjelasan dari setiap penggolongan nilai tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Nilai Pendidikan kepada Allah SWT
1.      Cinta Kepada Allah SWT
Cinta kepada Allah SWT dapat diwujudkan dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Dengan penuh rasa cinta pada Allah semata Ayyas memanjatkan do’a dalam getar suara menyesakan dada, “Ya Allah, aku tetap memohon kepada-Mu agar Engkau selamatkan Shopia. Hanya Engkau yang bisa menyelamatkannya Ya Allah. Engkaulah Dzat yang menghidupkan dan mematikan, ya Allah berikanlah kesempatan kepadaku untuk memenuhi permintaan orang yang berhijrah di jalan Mu akan tetapi jika Engkau mentakdirkan Shopia mati, Ya Allah, maka  jadikanlah matinya itu sahid di jalan Mu. Dan terimalah dia dengan penuh keridha’an-Mu jika itu yang terjadi ya Allah, maka sahidkan pula aku di jalan Mu agar kelak aku bisa berjumpa denganya si Bumi Cinta Mu yang sejati, yaitu surga yang Engkau sediakan bagi hamba-hamba Mu yang beriman dan beramal saleh, kabulkanlah do’a ku Ya Allah.Amin[4]

2.      Berdo’a
Pengungkapan Kelemahan seorang hamba dihadapan Sang Pencipta dan selalu mencoba meyakinkan diri bahwa Tuhan selalu ada disisinya dalam setiap keadaan.
Ayyas menghelakan nafas..., ia memejamkan mata dan berdo’a “A’udzubillahi min fitnatinnisaa[5]’!
Selesai salam, Ayyas langsung berdo’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW,
“Ya Allah hamba minta kepada-Mu kebaikan daerah ini, kebaikan penghuninya dan kebaikan yang ada didalamnya. Dan hamba berlindung kepada-Mu ya Allah dari buruknya daerah ini, dari buruknya penghuni daerah ini dan segala keburukan yang ada didalamnya. Amin”[6]
3.      Taubat (mohon ampun)
      Memohon ampun terhadap segala kesalahan yang dilakukannya
Dalam sujud berulangkali dia memohon ampun kepada Allah SWT, berulangkali diucapkan do’a  nabi yunus ketika berada dalam perut ikan. “Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau (Ya Allah), Sungguh aku termasuk orang-orang yang dzalim[7].”
4.      Tawakal
Membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah SWT dan menyerahkan segalanya pada Allah semata.
Ayyas berusaha untuk kembali kepada Allah, menyerahkan  dirinya sepenuhnya kepada Allah setiap kali memulai aktivitas apa saja. Ia merasa dirinya lemah tiada berdaya, yang memberinya kekuatan adalah Allah, yang memberikan kemampuan berfikir adalah Allah, dan yang menjaganya dari segala yang tidak baik adalah Allah[8].
5.      Syukur
Berterimakasih kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya, yang dalam novel ini diungkapkan dalam kata “Alhamdulilah”
Apakah kau sudah melihat Apartemen di Smolenskaya?” tanya ayyas pelan.
“ Belum. Aku harus sangat berhati-hati. Aku tidak boleh lengah sedikitpun. Bagaimana kabarnya Yelena?”.
“Jadi kamu belum tahu kabar Yelena?.”
“Belum.
Alhamdulillah, Yelena juga sudah muslimah.”
“Benarkah?” linor tidak percaya.
“Benar”
“Yelena yang tidak percaya adanya Tuhan itu sekarang Muslimah?[9]
                            
b.      Nilai Pendidikan terhadap diri sendiri
1.      Tanggungjawab
Merupakan sikap melakukan tugas ataupun kewajiban yang harus dipenuhi baik terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan negara dan tuhan Yang Maha Esa.
“......kamu lalu minta maaf kepada Bu Tyas dengan wajah pura-pura memelas. Dan Bu Tyas mau memaafkan asal kamu bediri di depan kelas selama Bu Tyas  mengajar dalam satu semester.”
“Dan aku mematuhisyarat Bu Tyas. Kejadian penjepretan itu di awal  hampir satu semester selama pelajaran bahasa inggris aku berdiri bagai patung di depan kelas dengan sat kaki. Sampai beberapa teman perempuan kita menjuluki aku si bandit kecil berkaki satu.[10]
2.      Disiplin
Merupakan perilaku yang menunjukan kepada suatu peraturan yang berlaku dalam lingkungannya.
Professor Tomsky ternyata belum tiba. Janji denganya memang pukul setengah sebelas dan sekarang baru pukul sepuluh lebih seperempat, artinya ia datang lebih dulu seperempat jam. Seorang perempuan tua gemuk pendek mendekat. Perempuan itu memakai kerudung kosinka putih lazimnya perempuan tua di desa-desa russia. Matanya dihiasi kacamata yang kecil bundar[11].
         
3.      Jujur
Mengatakan segala sesuatu sesuai dengan fakta empirik
”Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa diriku yang dituduh? Bagaimana mereka mendapatkan fotoku?” tanya ayyas yang diliputi tanda cemas dan bingung[12]
4.      Hormat dan Santun
      Merupakan sikap menghargai dan menghormati sesama manusia sehingga tidak menimbulkan perselisihan diantara sesama.
                        “Yang aku heran, kamu saat itu kok keliatan begitu tenang menjalani hukuman itu. Kamu juga tidak lari pulang kerumah pada saat pelajaran terakhir.kamu begitu setia menunggu Bu Tyas masuk kelas,lalu kamu dengan tanpa disuruh langsung ke depan kelas dan berdiri dengan kaki satu,laludiam bagai patung sampai kelas bubar. Apa sih yang membuatmu melakukan kejahilan itu[13].”
5.      Percaya diri
Melakukan segala hal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Ayyas langsung berdiri dari tempat duduk. Ia berdiri dengan tenang, kedua matanya memandang seluruh ruangan bagaikan seorang raja memandang rakyatnya lalu ia berkata,
“Kalian ingat puisi Paluson yanhg dikutip Leo Tostoy dalam cerpennya yang berjudul tuhan dan manusia.”
Terdengarlah gemuruh dari seluruh peserta bahwa mereka tidak ingat.
“Kalian mau aku bacakan puisi itu?”
Serentak mereka menjawab “ya bacakanlah!”
Ayyas langsung mendeklamasikan puisi itu dengan lantang,
“Topan yang menyembunyikan langit,
Angin pusar membawa salju
Sekarang ia mengaum bagai hewan buas
Sebentar kemudian bagai anak kecil
Ia merengut keluh[14]


6.      Teguh Pendirian / Konsisten
Sikap memegang teguh prinsip atau ideologi yang diyakini dan selalu mencoba menjaga untuk tetap melaksanakan prinsip tersebut
“Kau tahu Yas, Sopir tua ini menawari kita cewek Rusia?” kata Devi pada Ayyas
“Ya aku tahu.”
 “Kau Mau?”
 “Gila kau Dev! Itu Zina! Haram!”
“He he he! Baguslah kau masih kukuh memegang keyakinanmu. Aku ingin tahu seberapa kukuh imanmu di sini. Kalau aku, sorry saja, aku sudah tidak mau dibelenggu aturan agam apa pun, hehe.” Ejek David sambil terus terkekeh-kekeh[15].
c.       Nilai Pendidikan Karakter terhadap Lingkungan
1.      Memakmurkan Masjid
Salah satu cara dalam memakmurkan masjid yaitu dengan melaksanakan kewajiban didalamnya dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat
Ayyas memasuki masjid ada puluhan orang didalam masjid yang sedang membaca al-qur’an dalam kelompok melingkar. Adzan maghrib lima menit lagi. Ayyas mengambil air wudhu lalu duduk membaca al-qur’an tak jauh dari lingkaran.
Adzan berkumandang. Panggilan cinta dari Allah. Begitu sejuk, begitu merdu. Ayyas meneteskan air mata. Setelah berhari-hari di Moscoa baru kali ini ia mendengar suara adzan. Dan baru kali ini ia akan shalat berjama’ah di masjid[16].

2.      Mengajar Ilmu agama kepada generasi muda
Memberikan ilmu yang dimiliki kepada anak-anak sehingga ilmu dapat bermanfaat bagi umat.
Setiap malam, setelah shalat isya’ Ayyas menyempatkan diri ke rumah Alief untuk mengajari Shamil dan Sarah bagaimana cara membaca al-qur’an dan bagaimana shalat dengan benar[17].
3.      Peduli terhadap sesama
Perilaku menyimpan rasa empatik terhadap sesama manusia sehingga dapat menimbulkan hubungan yang harmonis.
Ayyas langsung teringat Allah. Bahwa diciptakanya manusia oleh Allah adalah untuk beribadah kepadanya, untuk berbuat kebaikan di atas muka bumi ini karenanya. Ia langsung teringat perintah Allah di dalam al-qur’an untuk menjaga nyawa orang lain, bahwa menjaga hidup satu nyawa manusia itu sama dengan menjaga seluruh umat manusia. Kalimat yang disampaikan perempuan tua itu berhasil menggugah sisi iman ayyas.
“Baiklah. Mari kita selamatkan satu nyawa umat manusia semampu kita.” Kata Ayyas[18]
Pendidikan Karakter memiliki relevansi dan peran yang besar dalam pendidikan nasional seperti yang tercantum dalampasal 3 UU SISDIKNAS:
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[19].
Adapun sikap-sikap Pendidikan Karakter dalam novel “Bumi Cinta” karya Habiburahman El-Shirazy yang relevan dengan tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut:
1.      Keimanan yang kuat Kepada Allah SWT, artinya memiliki kepercayaan yang kuat kepada Allah SWT dan rela untuk memberikan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Seperti yang tergambar pada novel tersebut bahwa tokoh Ayyas mampu memegang teguh kepercayaanya kepada Allah SWT ketika dalam lingkungan yang serba bebas dan menyerahkan segala perkara yang dihadapinya kepada Sang Khaliq.
2.      Pengungkapan Kelemahan seorang hamba dihadapan Sang Pencipta dan selalu mencoba meyakinkan diri bahwa Tuhan selalu ada disisinya dalam setiap keadaan. Seperti yang tergambar dalam novel bahwa Ayyas selalu berdo’a kepada Allah SWT ketika menghadapi segala perkara yang dianugerahkan kepadanya.
3.      Menerima segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT baik berupa perintah, larangan dan petunjuk dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikit pun.
4.      Membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah SWT dan menyerahkan segalanya pada Allah semata.
5.      Berterimakasih kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.
6.      Berperilaku tidak bergantung dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
7.      Bersungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dalam kehidupan dan menyelesaikanya dengan baik, dalam artian mengatasi masalah tanpa masalah.
8.      Memberikan rasa kasih sayang terhadap sesama.
9.      Memakmurkan masjid dengan melaksanakan kewajiban didalamnya dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat.
10.  Memberikan ilmu yang dimiliki kepada anak-anak sehingga ilmu dapat bermanfaat bagi umat.
11.  Berfikir kreatif dalam menghadapi segala perkara sehingga dapat menimbulkan tindakan-tindakan yang positif.
Jadi berdasarkan pemaparan di atas kita dapat melihat nilai-nilai atau karakter dari si tokoh utama si Ayyas.Dimana hal-hal di atas dia dapatkan pada pengalaman sebelumnya yakni di pesantren. Dalam pesantren di daerah Kajoran, Magelang dia ditanamkan karakter-karakter yang mulia atau yang biasa kita kenal dengan akhlak karimah. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan di pesantren itu dapat membentengi dirinya dari kegiatan-kegiatan dan hal-hal negatif yang tidak sesuai dengan norma, agama dan adat kebiasaan orang timur khususnya orang Indonesia.
Dan inilah menunjukkan bukti pentingnya dari pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter dapat membentengi seseorang dari kehilangan jati dirinya; siapa dia, dimana dia berasal dan prinsip-prinsipnya. Kita dapat melihat bagaimana si Ayyas mempertahankan dirinya dari kerusakan moral yang terjadi di sana. Dia tetap mempertahankan dirinya agar jangan sampai kehilangan jati dirinya sebagai orang Timur yang tinggal di Barat. Inilah yang sering terlupakan oleh orang-orang yang berpindah atau pergi ke  Barat. Biasanya setelah mereka pulang dari sana mereka akan melupakan nilai-nilai, karakter dan estetika orang  Timur yakni orang Indonesia.
Pendidikan karakter sangat penting bagi kehidupan berbangsa karena seseorang biasanya akan melupakan karakter bangsanya ketika dia berbaur atau menetap di bangsa dan Negara lain. Namun dengan pendidikan karakter hal itu tidak akan terjadi atau minimal dapat menetralisirnya. Sebagaimana pada tokoh si Ayyas, yang dapat mempertahankan jati dirinya.
Dan dari novel tersebut kita dapat lihat bahwa pendidikan karakter sangat dibutuhkan di era modern seperti sekarang ini.Dan juga mengacu pada novel tersebut dapat kita lihat bahwa pendidikan karakter dapat diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Pendidikan karakter bukanlah sebuah ilusi yang hanya akan menjadi sebuah idealisme baru yang tidak mungkin diterapkan. Namun sebaliknya dia merupakan sebuah hasil dari pendidikan yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menitik beratkan pada kecerdasan emosi dan akal, yang sudah seharusnya dapat diterapkan dalam dunia nyata.

C.    Hikmah dari novel “Bumi Cinta” yang berkaitan guna kemajuan Pendidikan Karakter di Indonesia
Setelah kami membaca, memahami dan menelaah setiap bait-bait kalimat dalam novel “Bumi Cinta”, kami dapat mengambil beberapa hikmah yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam proses pendidikan adalah :
1.      Mengedepankan nilai-nilai agama dalam setiap hal dan segala keadaan sehingga senantiasa dapat mengahadapinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
2.      Motivasi yang tinggi dan membangun semangat menuntut ilmu.
3.      Berdisiplin dalam segala hal dalam setiap waktu dan kesempatan.
4.      Melakukan segala sesuatu dengan rencana yang jelas dan teratur.
5.      Peduli terhadap sesama dan tidak mementingkan kepentingan pribadi     serta mengedepankan kepentingan bersama. Ini merupakan hasil dari pendidikan karakter di kalangan orang  Timur, yang di dalam dunia barat kurang dikenal.
6.      Mempertahankan sebuah jatidiri di dunia luar adalah sebuah keharusan, maka diperlukanlah pendidikan karakter yang berkesinambungan.
7.      Pendidikan karakter yang berhasil akan menghasilkan sebuah karakter yang kuat; yang mana hal itu tidak akan goyah, berubah, luntur dan menghilang walaupun apapun yang terjadi. Dapat kita lihat karakter dari si Ayyas yang tidak mau jatuh dalam kubangan zina di dunia yang serba bebas. Hal ini karena tidak sesuai dengan karakter orang  Timur (orang Indonesia) dan ini bertentangan dengan karakter atau akhlak seorang muslim.
8.      Pendidikan karakter, hari ini telah terlupakan maka diperlukanlah kesadaran kembali untuk membangun karakter bangsa yang kuat sehingga tidak tergerus habis oleh adanya westernisasi, globalisasi dan modernisasi.
9.      Diperlukannya orang-orang yang memilki karakter yang kuat dalam berhubungan dengan dunia luar, karena jika tidak maka akan terjadi pergeseran bahkan pelunturan kebudayaan asal. Sehingga sangat diperlukannya pendidikan karakter pada hari ini.




BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Pada akhirnya kami dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter itu sangat penting dan berpengaruh terhadap kepribadian sesorang dalam menuntut ilmu seperti tergambar dalam novel “Bumi Cinta” karya Kang Abik yang mengedepankan nilai-nilai agama dalam segala aspek kehidupan.
Pendidikan karakter sangat dibutuhkan pada hari ini untuk melindungi eksistensi sebuah bangsa. Dan juga untuk menjaga karakter ketimuran yang mulai luntur terkikis gelombang westernisasi, globalisasi dan modernisasi. Dan hal ini dapat kita lihat dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.


B.  saran
Sesuai dengan pembahasan diatas tentang pendidikan karakter, saya menyarankan beberapa point sebagai berikut:
Hendaknya mengedepankan nilai-nilai agama dalam segala aspek yang bisa termaktub dalam konsep pendidikan karakter.
Menumbuhkan sifat toleransi dan solidaritas tinggi pada seluruh komponen yang terlibat dalam pendidikan karakter.
Lebih mengedepankan konsep pendidikan karakter dibandingkan pendidikan yang berbasis pada nilai ujian.









DAFTAR PUSTAKA

El-Shirazy Habiburrahman, Bumi Cinta, (Jakarta:Basmala, 2010)
Sudrajat Akhmad, Pendidikan Karakter di SMP, http.wordpress.com
Hasan Said Hamid, dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa, (Jakarta:Badan Penenlitian dan Pengembangan, 2010)
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Undang-undang Republik Indonesia no 20 tahu 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISIDIKNAS), (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2007)



















[1]Akhmad sudrajat, Pendidikan Karakter di SMP, http.wordpress.com diakses 28 Desember  2011
[2]Said Hamid Hasan, dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa, (Jakarta:Badan Penenlitian dan Pengembangan, 2010), hal 4.
[3]Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
[4]Habiburahman El-Shirazy, Bumi Cinta, (Jakarta: Basmala, 2010) hal, 54
[5]Ibid, Hal 19
[6][6]Ibid, hal 41
[7]Ibid, hal 114
[8]Hibuburahman El-shirazy, Bumi Cinta,(Jakarta: Basmala, 2010) hal, 291
[9]Ibid, hal 537
[10]Ibid, hal 17                                                                                                                                                        
[11]Ibid, hal 70
[12]Habiburahman El-shirazy, Bumi Cinta, (Jakarta:Basmala, 2010) hal, 451
[13]Ibid, hal 17
[14]Ibid, hal 309
[15]Ibid, hal 25
[16]Habiburahman el shirazy, Bumi Cinta, (Jakarta:Basmala,2010) hal 10
[17]Ibid, hal 477
[18]Ibid, hal 171
[19]Undang-undang Republik Indonesia no 20 tahu 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISIDIKNAS), (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2007), hal 8.


EmoticonEmoticon