Rabu, 28 November 2012

Populasi dan Sampel penelitian


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Penelitian adalah pekerjaan ilmiah yang bermaksud mengungkapkan rahasia ilmu secara obyektif, dengan dibentengi bukti-bukti yang lengkap dan kokoh. Penelitian merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui cara tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya, informasi tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang dipertanyakan sebelumnya.Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran seseorang.
Sebagian dari kualitas hasil suatu penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data yang digunakan.Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan reliable.Untuk memperoleh data seperti itu, peneliti dapat menggunakan metode, teknik, prosedur, dan alat-alat yang dapat diandalkan.Ketidaktepatan dalam penggunaan intrumen penelitian tersebut dapat menyebabkan rendahnya kualitas penelitian.
Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah.Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan dengan pertanyaan serta menghindari adanya bias.Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau informasi yang diperolehnya.
Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian adalah menentukan populasi dan sampel penelitian.Seorang peneliti dapat menganalisa data keseluruhan objek yang diteliti sebagai kumpulan atau komunitas tertentu.Seorang peneliti juga dapat mengidentifikasi sifat-sifat suatu kumpulan yang menjadi objek penelitian hanya dengan mengamati dan mempelajari sebagian dari kumpulan tersebut. Kemudian, peneliti akan mendapatkan metode atau langkah yang tepat untuk memperoleh keakuratan penelitian dan penganalisaan data terhadap objek.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil beberapa pokok permasalhan yang akan dibahas dalam makalh ini, yaitu:
1.      Apapengertian populasi penelitian?
2.      Apapengertian sampel penelitian?
3.      Bagaimana tekhnik sampel dalam suatu penelitian?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
1)      Populasi
Menurut kamus riset karangan Drs. Komaruddin, yang dimaksud dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel, yang terdiri atas obyek/ subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lainnya ). Misalnya akan melakukan penelitian di sekolah X, maka sekolah X ini merupakan populasi. Sekolah X ini memiliki subyek dan obyek di dalamnya, hal tersebut berarti populasi dalam arti jumlah/ kuantitas.Sedangkan populasi dalam arti karakteristik dapat ditunjukkan dari motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, dan lain-lain.
Sedangkan menurut Dr. Siswojo definisi dari populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan peneliti ). Disini peneliti dapat menentukan kriterianya sendiri di dalam populasi yang akan diteliti.
Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi dapat dibedakan berikut ini :
1.      Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memilki karakteristik yang terbatas. Misalnya 5.000 orang dai pada awal tahun 1999, dengan karakteristik; masa belajar di pesantren 10 tahun, lulusan pendidikan Timur Tengah, dan lain-lain.\
2.      Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya dai di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak dai pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang.
Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan suatu jumlah objek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-orang, dahulu, sekarang dan yang akan menjadi dai.Selain itu, menurut Margono populasi dapat dibedakan ke dalam hal berikut ini:[1]
1.      Populasi teoretis (teoritical population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka ditetapkan terdiri dari dai berumur 25 tahun sampai dengan 40 tahun, lulusan Mesir, dan lain-lain.
2.      Populasi yang tersedia (accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas. Misalnya, dai sebanyak 250 di kota Bandung terdiri dari dai yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan dalam populasi teoretis. Margono pun menyatakan bahwa persoalan populasi penelitian harus dibedakan ke dalam sifat berikut ini:
a.       Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah, hasilnya akan sama saja.
b.      Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia menghadapi populasi yang heterogen.
Meskipun banyak populasi yang anggotanya terbatas jumlahnya seperti jumlah muballigh di Jakarta, jumlah mahasiswa Islam di Yogyakarta, di mana keduanya sebenarnya dapat dapat dihitung namun karena hal itu sulit dilakukan maka dianggap tidak terbatas.
2)      Sampel
Menurut Wardi Bachtiar menyatakan bahwa sampel adalah bagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya atau sebagai percontohan yang diambil dari populasi.Percontohan mempunyai karakteristik yang mencerminkan karakteristik populasi.Karena itu sampel merupakan perwakilan dari populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif.Suatu sampel dikatakan representative apabila ciri-ciri sampel yang berkaitan dengan tujuan penelitian sama atau hampir sama dengan ciri-ciri populasinya. Dengan sampel yang representatif ini, maka informasi yang dikumpulkan dari sampel hampir sama dengan informasi yang dapat dikumpulkan dari populasinya.[2]
Sampel atau sampling berarti contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian. ) Apabila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semuanya, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Dalam menentukan sampel hendaknya dipenuhi syarat-syarat utama dalam menentukannya, maksudnya bahwa sampel yang diambil harus betul-betul mewakili (representative) populasi yang telah dikemukakan.Apabila sampel tidak mewakili, maka ibarat orang buta disuruh menyimpulkan karakteristik gajah.
Orang pertama yang memegang telinga gajah akan menyimpulkan bahwa gajah itu seperti kipas. Orang kedua yang memegang badan gajah, maka kesimpulannya gajah itu seperti tembok besar. Satu orang lagi memegang ekornya, maka ia menyimpulkan bahwa gajah itu kecil seperti seutas tali. Begitulah jika sampel yang dipilih tidak representative, maka ibarat 3 orang buta itu yang membuat kesimpulan salah tentang gajah.[3]

B.     Teknik Sampling
Secara garis besar ada dua macam tekhnik sampling, yaitu: Probability sampling yaitu sampling yang memberi kemungkinan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih dan Non-Probability sampling yaitu sampling yang tidak memberi kemungkinan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih.[4]

a.       Probability sampling
Dalam probability sampling ada empat macam sampling yang termasuk di dalamnya, yaitu:
1.)    Sampling Acakan Sederhana (Simple Random Samping)
Yang dimaksud dengan acakan atau random ialah setiap individu atau subyek memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih dalam keseluruhan populasi. Selain itu kesempatan harus independent, artinya kesempatan bagi suatu subyek untuk dipilih tidak mempengaruhi kesempatan subyek-subyek lain untuk dipilih.
Kelemahan sampling acakan ialah karena sukar, ada kalanya tidak mungkin memperoleh data lengkap tentang keseluruhan populasi itu.Sampling acakan juga kurang sesuai bila peneliti memerlukan sample yang mempunyai cirri-ciri tertentu, misalnya tingkat pendidikan, kedudukan sosial, dsb.
2.)    Sampling Acakan Proporsional dengan Stratifikasi (Proportionate Stratified Random Sampling)
Pada prosedur pengambilan sampel berstrata dengan pendekatan proporsional, banyaknya subyek dalam setiap subkelompok atau strata harus diketahui perbandingannya lebih dahulu.Kemudian ditentukan persentase besarnya sampel dari keseluruhan populasi.Persentase atau proporsi ini diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok atau stratanya.



Strata/Sub-kelompok
Kelas 1
Kelas 2
Jumlah Kelas
SES Tinggi
268
342
610
SES Sedang
243
444
687
SES Rendah
122
101
223
Jumlah SES
633
887
N=1520
Tabel 1. Data Fiktif Distribusi Subjek dalam Strata Populasi
Sebagai ilustrasi, dari populasi yang berjumlah 1520 orang subyek ditetapkan untuk diambil 20% sebagai sampel. Distribusi populasi subyek menurut strata atau subkelompok diumpamakan sebagai dalam Tabel 1.dengan mengambil secara random 20% subyek dari setiap subkelompok sebagai sampel maka distribusi subyek sampel adalah seperti dalam Tabel 2.[5]
Strata/Sub-kelompok
Kelas 1
Kelas 2
Jumlah Kelas
SES Tinggi
54
68
122
SES Sedang
49
89
138
SES Rendah
24
20
44
Jumlah SES
127
177
  n=304
Tabel 2.Distribusi Sampel Berstrata Proporsional dari Populasi dalam Tabel 1.
Perhatikan bahwa meskipun proporsi subyek diambil 20% dari masing-masing strata namun jumlah sampel keseluruhan (n=30) juga merupakan 20% dari seluruh populasi (N=1520).
Keuntungan sampling ini adalah sampel yang diperoleh lebih representatif daripada sampel yang diperoleh dengan sampling acakan yang sederhana, dengan jumlah yang sama bagi setiap strata. Sampling ini lebih menggambarkan keadaan populasi yang sesungguhnya karena telah memperhatikan ciri-ciri tertentu.
Sedangkan kelemahannya ialah cara ini lebih banyak memerlukan usaha dan pengenalan lebih dulu tentang populasi. Peneliti harus sanggup memperoleh keterangan yang lebih terperinci tenyang distribusi ciri-ciri itu di kalangan populasi.
3.)    Sampling Acakan Tak Proporsional dengan Stratifikasi (Disproportionate Stratified Random Sampling)
Prosedur ini biasanya dilakukan karena alas an statistic yang kadang-kadang analisisnya meminta jumlah subyek yang sama dari masing-masing subkelompok.
Dalam cara disproporsional, penentuan sampel dilakukan tidak dengan mengambil proporsi yang sama bagi setiap subkelompok atau strata akan tetapi dimaksudkan untuk mencapai jumlah tertentu dari masing-masing strata. Sebagai ilustrasi, dari data populasi dalam Tabel 1 misalkan diambil sampel sebagaimana dalam Tabel 3. Tampak bahwa cara ini menghasilkan jumlah yang sama bagi sampel subyek untuk masing-masing subkelompok populasi. [6]
Strata/Sub-kelompok
Kelas 1
Kelas 2
Jumlah Kelas
SES Tinggi
75 = 28% × 268
75 = 22% × 342
150

SES Sedang
75 = 31% × 143
75 = 17% × 444
150
SES Rendah
75 = 61% × 122
75 = 74% × 101
150
Jumlah SES
225
225
n=450
Tabel 3.Distribusi Sampel Berstrata Disproporsional dari Populasi dalam Tabel 1.
Sampling ini tidak begitu banyak memakan waktu dibandingkan dengan sampling secara proporsional. Namunkelemahannya ialah justru dengan cara ini proporsi tiap strata yang sebenarnya menurut populasi menjadi terganggu.
Dibandingkan dengan cara random sederhana, maka cara pengambilan sampel stratifikasi ini akan menghasilkan eror standar yang lebih kecil dan karenanya akan menghasilkan estimasi yang lebih cermat mengenai karakteristik populasinya.
4.)    Sampling Daerah / Wilayah (Cluster)
Sampling daerah mempergunakan wilayah geografik sebagai titik tolak.Terutama dalam studi yang tidak memungkinkan peyelidik untuk lebih dahulu mengetahui besarnya populasi, yang dijadikan pegangan ialah pola geografik tempat populasi itu.Misalnya satui wilayah dibagi lebuh dahulu atas sekian banyak kabupaten.Setiap wilayah diwakili oleh sampel-sampel kabupaten-kabupaten yang secara random ditarik menjadi menjadi wilayah. Dari kabupaten-kabupaten itu, ditetapkan lagi jumlah kecamatan dan dari kabupaten=kabupaten itu ditarik sampel-sampel kecamatan yang menjadi sampel wilayah. Begitu seterusnya sampai misalnya kita sampai pada RT atau pada kesatuan-kesatuan lain yang menjadi pusat peyelidikan.[7]
Keuntungan sampling ini adalah sesuai bagi peneliti yang melibatkan populasi yang besar yang tersebar di daerah yang luas.Pelaksanaannya lebih mudah daripada metode sampling lainnya dan biayanya lebih murah karena sampel terpusat pada daerah yang terbatas.
Sedangkan kelemahannya adalah bahwa jumlah individu dalam tiap daerah pilihan tidak sama, ada pula kemungkinan orang pindah atau berjalan dari daerah pilihan yang satu ke daerah pilihan satu lagi sehingga ia dapat dua kali masuk sampel bila penelitian tidak dilakukan serempak.
b.      Non-Probability sampling
Non-Probability sampling dilakukan misalnya untuk sekedar mentes reliabilitas alat pengukur tertentu.Dilakukan juga untuk memperoleh suatu kesan umum tentang ciri-ciri manusia yang tinggal di suatu daerah.Berdasarkan studi ini peneliti mendapat keterangan yang lebih banyak tentang populasi, dan karena itu dapat dilakukan studi yang lebih sistematis kemudian dengan menggunakan sampling acakan.
Yang termasuk non-probability sampling antara lain:
1.)    Sampling Sistematis
Dengan sampling sistematis ini dimaksudkan peneliti memilih sampel dari suatu daftar menurut urutan tertentu, misalnya tiap individu ke-10 atau ke-15, atau ke-n.Metode sampling ini dikatakan sistematis karena mengikuti sistematika tertentu.
Keuntungan metode ini ialah, bahwa cara ini mudah dalam pelaksanannya dan juga dapat cepat diselesaikan. Kesalahan tentang memilih individu yang kesekian mudah diketahui, dan kalaupun salah tidak begitu mempengaruhi hasilnya.
Sedangkan kelemahannya ialah bahwa individu yang berada di antara yang kesekian dan kesekian dikesampingkan, sehingga cara ini tidak sebaik sampling acakan.[8]
2.)    Sampling kuota
Sampling kuota adalah metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam jumlah atau kuota yang diinginkan, misalnya sejumlah guru dalam bidang-bidang studi tertentu yang pernah mendapat penataran misalnya untuk meminta pendapat mereka tentang manfaat penataran itu bagi peningkatan mutu pengajaran.Peneliti dapat menentukan bidang studinya serta jumlah guru atau kuota tiap bidang studi yang diinginkannya untuk misalnya diwawancarai.
Keuntungan metode ini ialah bahwa melaksanakannya mudah, murah, dan cepat.
Hasilnya berupa kesan-kesan umum yang masih kasar yang tidak dapat dipandang sebagai generalisasi umum.Dalam sampel dapat dengan sengaja dimasukkan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri yang diinginkan oleh peneliti.
Kelemahannya ialah kecenderungan memilih orang yang mudah didekati bahkan yang dekat dengan peneliti yang mungkin ada biasnya dan memiliki ciri-ciri yang tidak dimiliki populasi dalam keseluruhannya.Ciri-ciri yang dipilih dalam penggolongan sampel tidak berdasarkan ciri-ciri yang esensial dari populasi.Oleh sebab sampel itu tidak representatif, maka kesimpulan peneliti ini hanya dapat memberi kesan-kesan yang sangat umum.
3.)    Sampel Aksidental (kebetulan)
Sampel aksidental adalah sampel yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada, misalnya bertanya pada siapa saja yang dijumpai oleh peneliti di tengah jalan untuk meminta pendapat mereka tentang sesuatu yang akan diteliti.
Keuntungan dari metode ini adalah sangat mudah, murah, dan cepat dilakukan. Sedangkan kelemahannya sampel ini sama sekali tidak representatif sehingga tidak mungkin diambil suatu kesimpulan yang bersifat generalisasi.[9]
4.)    Purposive Sampling (menurut pertimbangan)
Sampling purposive dilakukan dengan mengambil orang-orang yang benar-benar terpilih oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh sampel tersebut. Misalnya orang yang mempunyai tingkat pendidikan tertentu, jabatan tertentu, mempunyai usia tertentu yang pernah aktif dalam kegiatan masyarakat tertentu.
Sampling yang purposive adalah sampel yang dipilih dengan cermat hingga relevan dengan desain peneliti. Peneliti akan berusaha agar dalam sampel itu terdapat wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Dengan demikian diusahakan agar sampel itu memiliki cirri-ciri yang esensial dari populasi sehingga dapat dianggap cukup representatif. Ciri-ciri apa yang esensial, strata apa yang harus diwakili bergantung pada penilaian dan pertimbangan atau judgment peneliti. Oleh karena itu purposive sampling disebut juga judgment sampling.
Keuntungan sampel ini ialah bahwa sampel ini dipilih sedemikian rupa sehingga relevan dengan desain peneliti. Selain itu cara ini relatif mudah dan murah untuk dilaksanakan. Sampel yang dipilih adalah individu yang menurut pertimbangan peneliti dapat didekati.
Kelemahannya ialah bahwa tidak ada jamonan sepenuhnya bahwa sampel itu representatif seperti halnya sampel acakan atau random.Pertimbangan yang dilakukan oleh peniliti juga tidak terlepas dari subyektifitas peneliti.
5.)    Snowball Sampling
Dalam sampling ini peneliti mulai dengan kelompok kecil yang diminta untuk menunjuk kawan masing-masing.Kemudian kawan-kawan itu diminta pula menunjuk kawan masing-masing, dan begitu seterusnya sehingga kelompok itu semakin bertambah besar bagaikan bola salju yang menggelinding dari puncak bukit ke bawah.Sampling ini dipilih bila bila peneliti ingin menyelidiki hubungan antar manusia dalam kelompok yang akrab, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar di kalangan tertentu.[10]
Kelemahan metode ini adalah dalam penentuan kelompok kecil ada unsur subyektif, jadi tidak dipilih secara random atau acakan.Bila jumlah sampel melebihi 100 orang penanganannya sudah sulit dikendalikan.
6.)    Sampling Jenuh dan Padat (Saturation Sampling)
Sampling dikatakan jenuh (tuntas) bila seluruh populasi dijadikan sampel, misalnya semua guru di suatu sekolah.Sedangkan sampling dikatakan padat bila jumlah sampel lebih dari setengan dari populasi, misalnya 250-300 orang dari populasi 500 orang.
Populasi dikatakan kecil bila jumlahnya jauh di bawah 1000 orang.Sampling jenuh dapat dilakukan bagi kelompok yang kecil. Akan tetapi bila jumlahnya besar misalnya lebih dari 1000 orang, maka sampling jenuh tidak lagi praktis karena biaya dan waktu terlampau banyak untuk misalnya melakukan wawancara dan pengolahannya. [11]



BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
populasiadalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan sebagai objek penelitian. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data maka, banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya manusia.
Sedangkan sampel adalah sebagai wakil populasi yang diteliti atau bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasi, atau sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.
Adapun tekhnik-tekhnik dalam pengampilan sampel yaitu,probability sampling, ada empat macam sampling yang termasuk di dalamnya, yaitu:
1.      Sampling Acakan Sederhana (Simple Random Samping)
2.      Sampling Acakan Proporsional dengan Stratifikasi (Proportionate Stratified Random Sampling)
3.      Sampling Acakan Tak Proporsional dengan Stratifikasi (Disproportionate Stratified Random Sampling)
4.      Sampling Daerah / Wilayah (Cluster)
Non-Probability sampling, Yang termasuk antara lain:
1.      Sampling Sistematis
2.      Sampling kuota
3.      Sampel Aksidental (kebetulan)
4.      Purposive Sampling (menurut pertimbangan)
5.      Snowball Sampling
6.      Sampling Jenuh dan Padat (Saturation Sampling)




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006
Furchan,A, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Margono,S,Metodologi Penelitian Pendidikan, Cet.7, Jakarta: Rineka Cipta, 2007. Mardalis, Metode Penelitian : Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi aksara, 1995.
Muhtadi, Asep Saeful, dkk, Metode Penelitian Dakwah, Cet.1, Bandung : Pustaka Setia2003
Nasution.Metode Research (Penelitian Ilmiah).Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
Nazir,Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005
Soehartono, Irawan, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Cet.4, Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2005.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R & D, Bandung : Alfabeta, 2010
Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Press, 2010


[1] S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Cet.7, Jakarta: Rineka Cipta, 2007. h. 56
[2]Mardalis, Metode Penelitian : Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi aksara, 1995, h. 55
[3] Nazir, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005, h. 25
[4] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, h. 132
[5] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2005, h. 88
[6] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Press, 2010, 13
[7] Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Cet.4, Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000, h. 45
[8] A Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, h. 30
[9] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R & D, Bandung : Alfabeta, 2010, h.18
[10]Nasution.Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta : Bumi Aksara, 1996, h. 35
[11] Asep Saeful Muhtadi, dkk, Metode Penelitian Dakwah, Cet.1, Bandung : Pustaka Setia, 2003, h. 54

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon