Kamis, 11 Agustus 2016

Makalah Sejarah Sosial Pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyiddin

Tags

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist untuk membentuk manusia yang seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT, dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan pendidikan dapat menjalankan seluruh kehidupannya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah dan Rasulnya demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pada masa Nabi, pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rasulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam di pegang oleh Khulafaurrasyidin. Wilayah Islam telah meluas diluar jazirah Arab para khalifah ini memusatkan perhatiannya pada pendidikan keagamaan syiar agama dan kokohnya pendidikan.
Tahun-tahun pemerintahan khulafaurrasyidin merupakan perjuangan terus-menerus antara hak yang mereka bawa dan dakwahkan kebatilan yang mereka perangi dan musuhi. Pada zaman khulafaurrasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan Islam masih tetap memantulkan al-Qur’an dan Sunnah di ibu kota khilafah di Makkah, di Madinah dan di berbagai negeri lain yang ditaklukan oleh orang-orang Islam.
B.       Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas pemakalah dapat menguraikan beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.        Bagaimana Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa khalifah Abu Bakar as-Siddiq?
2.        Bagaimana Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Umar bin Khattab?
3.        Bagaimana Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Usman bin Affan?
4.        Bagaimana Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib?
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq
1.        Sosial Masyarakat
Masa kepemimpinan Abu Bakar terhitung sangat singkat, hanya dua tahun. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah di kota Madinah. Mereka menganggap, bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Oleh karena itu, mereka menentang pemerintahan Abu Bakar. Dikarenakan sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut perang Riddah (perang melawan kemurtadan).[1]
2.        Pola Pendidikan
Dilihat dari sosial masyarakat yang pada saat itu tidak semua berpihak pada pemerintahan, dengan alasan diatas, Abu Bakar fokus untuk menangani pemberontakan orang-orang murtad, pengaku nabi dan pembangkan zakat. Hal ini menyebabkan pendidikan dimasa ini tidak banyak mengalami perubahan sejak masa Rasulullah SAW. Yakni berkisar pada materi pendidikan seputar tauhid, akhlak, ibadah, kesehatan.[2]
a.         Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti lembaga pendidikan pada masa Nabi, namun dari segi kuantitas maupun kualitas sudah banyak mengalami perkembangan. Antara lain:
1)        Kuttab
Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid. Lembaga ini mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kemajuannya terjadi ketika masyarakat muslim telah menaklukkan beberapa daerah dan menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang telah maju.[3]
2)        Masjid
Selain tempat untuk beribadah, Masjid juga dijadikan sebagai lembaga pendidikan lanjutan setelah anak-anak tamat belajar dari kuttab. Di Masjid ini ada dua dua tingkat pendidikan yaitu tinggi dan menengah.[4]
b.        Materi Pendidikan
Materi pendidikan yang diajarkan pada kuttab adalah membaca dan menulis, membaca al-Quran dan menghafalnya, pokok-pokok agama Islam. Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi adalah al-Quran dan tafsirnya, hadits dan syarahnya, kesehatan, dan fiqih (tasyri’).[5]
c.         Pendidik
Yang menjadi pendidik pada masa Abu Bakar adalah beliau sendiri serta para sahabat rasul terdekat.[6]
B.       Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Umar bin Khattab
1.        Sosial Masyarakat
Sebelum Abu Bakar wafat, beliau telah menyaksikan persoalan yang timbul di kalangan kaum muslimin sejak Rasul wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat.[7]
Masa pemerintahan Umar bin Khatthab sekitar 10 tahun ini, mengalami perluasan wilayah kekuasaan. Yang mana Madinah sebagai pusat pemerintahan. Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh  tidak diperlukan untuk keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan terpusat di Madinah.[8]
2.        Pola Pendidikan
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pendidikan juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya, Pola penddidikan di masa ini mengalami perkembangan. Khalifah saat itu sering mengadakan penyuluhan (pendidikan) di kota Madinah. Beliau juga menerapkan pendidikan di Masjid-masjid dan mengangkat guru dari sahabat-sahabat untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bukan hanya bertugas mengajarkan al-Qur’an, akan tetapi juga dibidang Fiqih.
a.         Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan pada masa Umar ini juga sama dengan masa Khalifah Abu bakar, namun dari segi kemajuan lembaga pendidikan begitu pesat, sebab Umar memerintah negara dalam keadaan stabil dan aman. Sehingga masjid dijadikan sebagai pusat pendidikan, juga dibentuknya pusat pendidikan di berbagai kota.
Pendidikan pada masa itu berada di bawah pengaturan gubernur. Di samping itu juga terdapat kemajuan di bidang lain, seperti pengiriman pos surat, kepolisian, Baitul Mal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari Baitul Mal.[9]
b.        Materi Pendidikan
Materi pendidikan pada masa Umar aalah materi pada Kuttab pada masa Abu bakar di samping materi yang diajarkan ditambah dengan beberapa mata pelajaran dan keterampilan. Ketika Umar menjadi Khalifah ia menginstruksikan kepada pendidik agar anak-anak diajarkan berenang, mengendarai onta, memanah, membaca, menghafal syair-syair yang mudah, dan peribahasa.
Tuntutan belajar bahasa Arab pun juga sudah mulai kelihatan. Orang yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika ingin belajar dan memahami pengetahuan Islam.
Materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari membaca al-Quran dan tafsirnya, hadits dan mengumpulkannya, dan fiqih (tasyri’).[10]
c.         Pendidik
Yang menjadi pendidik pada masa Umar adalah beliau sendiri serta guru-guru yang beliau angkat. Umar merupakan seorang pendidik yang sering melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah.  Beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap daerah yang ditaklukkan.[11]
Berdasarkan hal di atas, pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Khattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan di samping telah diterapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu–ilmu lainnya. Pendidikan dikelola di bawah pengaturan Gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.[12]
C.      Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Usman bin Affan
1.        Sosial Masyarakat
Masa pemerintahan Utsman yang berlangung kurang lebih 11 tahun, masa yang lumayan lama ini stabilitas politik mulai memanas, hal ini disebabkan terjadinya fitnah dikalangan masyarakat. Salah satunya terdapat beberapa wilayah yang hendak melepaskan diri dari pemerintahan Ustman bin Affan, yang disebabkan dendam lama sebelum ditaklukkan Islam. Daerah tersebut adalah  Khurasan dan Iskandariah. Selain itu ada dua hal yang menyebabkan rasa kebencian kepada Khalifah semakin memuncak, yaitu kelemahan Utsman dan sikap Nepotisme. Utsman memang memiliki perangai yang berbeda dengan Khalifah sebelumnya. Jika umar dengan ketegasannya menimbulkan wibawa dan disegani oleh masyarakat, berbeda dengan Utsman yang bersikap lemah lembut. Sedangkan sikap Nepotismenya diwujudkan dalam bentuk pemerintahan. Pasalnya, pada masa ini banyak gubernur-gubernur yang dilepas jabatannya, dan digantikan dengan kerabatnya sendiri. Antara lain Mughirah bin Syu’bah gubernur Kufah digantikan Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Musa al-‘Asy’ari gubernur Bashrah digantikan Abdullah bin ‘Amir bin Kariz, ‘Amr bin ‘Ash gubernur Mesir digantikan abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah.[13]
Saif bin Umar mengatakan, bahwa sebab terjadinya pemberontakan beberapa kelompok menentang pemerintah adalah disebabkan seorang yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura masuk Islam dan pergi kedaerah Mesir untuk menyebarkan idenya tersebut dibeberapa kalangan masyarakat. Maka mulailah masyarakat mengingkari kepemimpinan Ustman Bin Affan serta mencelanya.
2.        Pola Pendidikan
Pola pendidikan tidak jauh berbeda dengan pola pendidikan yang diterapkan pada masa Umar. Hanya saja pada periode ini, para sahabat yang asalnya dilarang untuk keluar dari kota Madinah kecuali mendapatkan izin dari Khalifah, mereka diperkenankan  untuk keluar dan mentap di daerah-daerah yang mereka sukai. Dengan kebijakan ini, maka orang yang menuntut ilmu (para peserta didik) tidak merasa kesulitan untuk belajar ke Madinah.[14]
Khalifah Utsman bin Affan sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang disumbangkan untuk umat Islam, dan sangat berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena perselisiahn dalam bacaan al-Qur’an. Berdasarkan hal tersebut, khalifah Usman memerintahkan kepada tim yang dimpimpin Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.[15]
Bila terjadi pertikaian bacaan, maka harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al-Qur’an ini diturunkan dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy, sedangkan ketiganya adalah orang Quraisy.
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa Utsman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharap keridhaan Allah.
D.      Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
1.        Sosial Masyarakat
Beberapa hari setelah pembunuhan Ustman bin Affan, stabilitas keamanan kota madinah menjadi rawan. Gafqy bin Harb memegang keamanan ibukota Islam itu selama kira-kira lima hari sampai terpilihnya Khalifah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib tampil menggantikan Ustman bin Affan, dengan menerima baiat dari sejumlah kaum muslimin.[16]
Pada masa pemerintahan  Ali yang hanya sekitar enam tahun itu, terjadi kekacauan politik dan pemberontakan, salah satunya disebabkan kebijakan Khalifah yang memecat gubernur-gubernur yang diangkat oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan). Seperti Ibnu Amir Gubernur Bashrah Ustman bin Hanif, Abdullah Gubernur Mesir diganti Qais bin Sa’ad, tak terkecuali Mu’awiyah bin Abi Sufyan Gubernur Damaskus, diminta untuk meletakkan jabatannya, namun menolak dan bahkan tidak mau mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.
Selain itu, beliau juga mengeluarkan kebijakan baru dengan menarik hasil tanah yang sebelumnya telah hadiahkan oleh utsman kepada penduduk. Tidak lama setelah itu, terjadi kesalah-pahaman diantara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah binti Abu Bakar, Thalhah dan Zubair. Mereka berselisih mengenai penyelesaian kasus pembunuhan Ustman bin Affan. Hal ini mengakitbatkan pergolakan politik hingga terjadinya peperangan yang dikenal dengan peran Jamal yang dimenangi dari kubu Ali bin Abi Thalib.  Selain itu, pada masa ini terjadi perang shiffin. Yaitu peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufwan, gubernur Damaskus. Yang berakhir dengan Tahkim sebagai akibat timbulnya golongan pembenci Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Khawarij.
2.        Pola Pendidikan
Pada masa Ali bin Abi Thalib tidak terlihat perkembangan pendidikan yang berarti, karena pada masa ini telah terjadi kekacauan politik dan pemberontakan, sehingga pada masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa kegiatan pendidikan islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu Ali tidak dapat lagi memikirkan masalah pendidikan, sebab keseluruhan perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan di dalam pemerintahannya.[17]
Masa enam tahun dengan situasi pemerintahan yang tidak stabil ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada masa ini mendapat hambatan, dikarenakan  Khalifah sendiri tidak sempat untuk memikirkannya. Dan itu berarti pola pendidikannya tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya.[18]



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Umar bin Khattab pendidikan sudah lebih meningkat di mana pada masa Umar guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan. Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan kepada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah dibolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar. Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.



DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009.
Arief, Armai, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik, Bandung: Angkasa, 2005.
Langgulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Husna, 1988.
Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, Bandung:  Angkasa, 1983.
Soekarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 1990.
Syakir, Mahmud, al-Tarikh al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol. III, Bairut: al-Maktab al-Islami, 2000.
Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Prenada Media, 2008.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008.
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
http://itarizki.blogspot.com/2011/04/pendidikan-masa-khulafaur-rasyidin.html  diakses tanggal 04 Mei 2016.


[1]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), h. 36.
[2]Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta; Prenada Media, 2008), h. 45.
[3]Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), h. 60.
[4]Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, h. 48.
[5]Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, h. 49
[6]Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, h. 61.
[7]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, h. 37.
[8]Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam (Bandung:  Angkasa, 1983), h. 51.
[9]Soekarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam  (Bandung: Angkasa, 1990), h. 47.
[10]Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik (Bandung: Angkasa, 2005), h. 65.
[11]Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam  (Jakarta: Pustaka Husna, 1988), h. 27.
[12]http://itarizki.blogspot.com/2011/04/pendidikan-masa-khulafaur-rasyidin.html  diakses tanggal 04 Mei 2016
[13]Mahmud Syakir, al-Tarikh al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol. III (Bairut: al-Maktab al-Islami, 2000), h. 233.
[14]Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, h. 49.
[15]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam  (Jakarta: Amzah, 2009), h. 105.
[16]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, h. 109.
[17]Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 87.
[18]Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, h. 50.


EmoticonEmoticon