Sabtu, 21 November 2015

Hadis Tentang Karakter dan Sifat Anak Didik

Tags

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Islam menganjurkan kepada manusia untuk mencari ilmu sebagai bekal mengatasi segala permasalahan hidup dan juga membimbing umatnya supaya berakhlak mulia serta berilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan kewajian di mana saja dan kapan saja, karena ilmu merupakan penyelamat di dunia dan bekal di akhirat kelak. Jika manusia belum memiliki ilmu, dalam Islam dianjurkan untuk bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu tersebut.
Firman Allah Swt. dalam surat an-Nahl ayat 43:

4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  
Artinya :
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S. An-Nahl : 43)
Dengan itu, tak ada satu orangpun yang berhak menghentikan atau melarang seseorang dalam mencari ilmu (belajar). Setiap individu berhak mendapatkan pendidikan dan tak ada kata akhir dari suatu proses belajar. Bahkan, Islam sangat menganjurkan,
sebagaimana sabda Nabi Saw;
طلب العلم فرىضة على كل مسلم ومسلمة
 “Menuntut ilmu itu fardu atas setiap muslimin dan muslimat” (al-Ghazali, tt:27).
Berdasarkan alasan dan ajaran Islam tersebut, para ahli pendidikan Islam sejak dahulu sehingga sekarang secara serius melaksanakan proses pendidikan dalam upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Menurut Aminuddin Rasyad, bahwa Islam menginginkan manusia individu (guru dan murid) dan masyarakat menjadi orang-orang yang berpendidikan. Berpendidikan berarti berilmu, berketerampilan, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, pandai bermasyarakat dan bekerjasama untuk mengelola bumi dan alam beserta isinya untuk kesejahteraan umat di dunia dan akhirat serta dekat dengan Khalik-nya.[1]
Suatu hal yang penting diketahui oleh seorang pendidik atau calon pendidik adalah sikap dan karakter anak didik. Anak didik di sekolah yang dihadapi guru sudah membawa karakter yang terbentuk dari lingkungan rumah tangga atau lingkungan masyarakat yang berbeda. Ada yang baik da nada yang buruk, ada yang patuh da nada juga yang tidak patuh, dan seterusnya. Mengetahui latar belakang dan karakter anak didik menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan alat pembelajaran, pendekatan dan metodenya yang akan dilakukan oleh seorang guru sehingga tujuan pendidikan akan tercapai dengan mudah. Sikap dan karakter anak didik ini dapat diubah darn dibentuk sesuai dengan keinginan dan tujuan pendidikan. Di sinilah peran guru, orang tua dan masyarakat yang amat penting dalam membentuk lingkungan anak didik yang baik dan saling mendukung.[2]
Berdasarkan uraian tersebut, perlu digali dan diteliti lebih mendalam untuk mendapatkan pemahaman yang sangat luas tentang bagaimana seharusnya karakter peserta didik dibentuk dan dikembangkan agar tujuan pendidikan tercapai sesuai dengan cita-cita para peserta didik. Dalam hal ini, pembahasan tentang karakter peserta didik ini akan ditinjau dari aspek pendidikan Islam.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat di ambil beberapa pokok permasalahan yang akan di bahas pada makalah ini, yaitu :
1.      Bagaimana hadist tentang peserta didik ?
2.      Apa pengertian dari karakter peserta didik ?
3.      Apa saja macam-macam karakter dari peserta didik ?
4.      Apa Faktor yang mempengaruhi karakter peserta didik?




BAB II
PEMBAHASAN
A.     Hadits tentang karakter dan sifat anak didik
a.      Karakter Menerima Pelajaran
عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال مثل مابعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثيرأصاب أرضافكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير  وكانت منهاأخادب أمسكت الماء فنفع الله بهاالناس فسربواوسقوا وزرعوا وأصابت منها طائفة أخرى إنماهي قيعان لاثمسك ماءولاتنبت كلأفذلك مثل من فقه في دٍينٍ الله وَنَفَعَهُ مَابَعَثَنِي الله بِهِ فَعَلِمَ وعلم ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلتبه (متفق عليه)                                                                 
1.      Kosakata (Mufradat)
a.       مابعثني الله به = sesuatu yang aku diutus Allah dengannya
b.      الغيث               = hujan
c.       طائفة               = sebidang tanah
d.      نقية                  = subur
e.       فأنبتت              = menumbuhkan
f.       الكلأ والعشب   = tumbuh-tumbuhan dan rumput yang hijau
g.      أخادب              = tanah tandus yang tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan
h.      أمسكت             = menahan
i.        قيعان               = tanah datar licin (berlumut)
j.         فقه                  = paham
k.      لم يرفع بذلك رأسا       = tidak peduli, tidak memperhatikan,  berpaling dari
                        ilmu (asal artinya tidak mengangkat kepala untuk ilmu)[3]


2.      Terjemahan
Dari Abi Musa r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya perumpamaan petunjuk (hidayah) dan ilmu yang dengannya aku diutus oleh Allah bagaikan hujan yang jatuh mengenai Bumi. Di antaranya ada bumi yang subur, ia dapat menerima air kemudian menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan dan rumput yang lebat. Di antaranya ada Bumi yang tandus (tanah berbatu padas) yang dapat menahan air, lalu dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia, sehingga mereka dapat minum, menyirami, dan bercocok tanam daripadanya. Dan (air hujan) ada yang mengenai sebagian Bumi, sesungguhnya ia tanah licin tidak dapat enahan air dan tidak dapt menumbuhkan tanaman. Demikian itu, perumpamaan orang yang mengkaji agama Allah dan bermanfaat apa yang aku diutus dengannya, ia mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain) dan perumpamaan orang tidak peduli (tidak mampu mengambil manfaat apa yang aku diutus dengannya), dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Muttafaq Alayh)[4]
3.      Penjelasan (syarah Hadis)
Rasulullah SAW membuat perumpamaan yang indah tentang ilmu dan petunjuk yang diberikan kepada manusia bagaikan hujan yang menyirami Bumi. Kedua perumpamaan Bumi dan manusia membutuhkan siraman, Bumi perlu siraman air agar menjadi tanah yang subur dan dapat menumbuhkan tanaman-tanaman yang hijau kemudian dimanfaatkan untuk manusia. Demikian halnya hati manusia perlu disiram dengan petunjuk dan ilmu, agar hatinya menjadi subur menerima petunjuk mendapat ketenangan, kemudian diamalkan dan diajarkan sehingga manfaatnya lebih luas. Al-Qurthubiy menyatakan bahwa Rasulullah SAW membuat perumpamaan agama yang dibawanya bagaikan hujan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Demikian juga, keadaan umat sebelum datangnya Rasulullah SAW menunggu kehadirannya. Sebagaimana hujan berperan dapat menghidupkan Bumi yang mati, ilmu juga dapat menghidupkan hati yang mati.
Pada Hadis di atas ada tiga karakter manusia sebagai anak didik dalam menerima ilmu atau petunjuk yang diumpamakan seperti ragam tanah atau Bumi ketika menerima siraman hujan dari langit, sebagai berikut:
a.       Bagaikan Bumi subur
Karakter anak didik diumpamakan seperti Bumi subur ketika disiram dengan air hujan. Bumi itu dapat minum atau menyerap air, menumbuhkan tanaman-tanaman, tumbuhan-tumbuhan, dan rumput hijau yang subur.
Karakter anak didik pertama ini karakter yang terbaik di antara tiga karakter yang ada nanti, karena karakter inilah yang menjadi tujuan pendidikan, yaitu membentuk pribadi anak yang baik dan memiliki ilmu pengetahuan yang bermanfaat yakni diamalkan dan diajarkan. Alangkah manfaatnya jika tanah yang subur itu dapat menumbuhkan  berbagai buah-buahan dan sayur mayor  yang mengandung vitamin  yang amat penting bagi kesehatan manusia. Alangkah manfaatnya jika ilmu seseorang yang diamalkan dan diajarkan kepada orang lain dapat menerangi dirinya dan masyarakat di sekitarnya. Orang pertama ini disebut sebagai orang alim yang mengamalkan ilmunya untuk dirinya dan mengajarkannya kepada orang lain.[5]
b.      Bagaikan Bumi tandus dan gersang
Bumi tandus ini hanya dapat menampung air belakang, tetapi tidak dapat menyerap untuk menumbuhkan tanaman-tanaman atau tumbuhan-tumbuhan. Memang ia dapat memberi manfaat kepada manusia seperti untuk minum, untuk menyirami dan untuk bercocok tanam, tetapi ia tidak dapat mengambil manfaat untuk dirinya. Ini sebuah perumpamaan karakter anak didik yang pandai, cerdas, dan pintar semua buku sudah dibaca dan seolah-olah semua ilmu dikuasai. Tetapi ilmu itu sebatas di ajarkan dan diinformasikan kepada orang lain, sementara ilmu itu tidak diamalkan untuk dirinya. Karakter anak didik kedua ini bagaikan lilin yang menerangi benda disekitarnya, tetapi membakar dirinya.
Karakter kedua ini kurang etis, seharusnya ilmu yang telah didapatkan untuk kepentingan diri sendiri terlebih dahulu, kemudian keluarga dan baru untuk orang lain. Otang kedua ini hanya memindahkan berita, hanya meriwayatkan, hanya menyampaikan, dan hanya menceritakan kepada orang lain.
c.       Bagaikan Bumi licin mendatar
Bentuk karakter anak didik ketiga diumpamakan seperti bumi licin mendatar tidak dapat menyerap dan tidak dapat menampung air.[6]
Karakter sebagaian anak didik ketiga ini tidak dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Mereka tidak dapat menyerap ilmu dan tidak dapat menampung ilmu. Tidak ada ilmu yang menempel di otak mereka, tidak ada ilmu yang dapat menumbuhkan buah amal nyata untuk dirinya dan tidak ada orang lain yang mendapat pengajaran daripadanya. Mereka tidak mau mendengarkan ilmu atau mendengar tetapu tidak memelihara ilmu itu, tidak untuk diamalkan dan tidak untuk diajarkan.
Karakter ketiga ini yang terendah di antara tiga karekter di atas, karena keberadaannya kurang berfungsi sebagai anak didik, keberadaannya kurang bermanfaat dari berbagai arah.
Orang ketiga ini tidak mau mengambil manfaat dari petunjuk dan ilmu yang dibawa Nabi dan tidak memberi manfaat kepada orang lain bahkan tidak menerima petunjuk atau ilmu dari Nabi. Kalau demikian halnya bisa jadi tergolong orang kafir.[7]
B.     Pengertian karakter anak didik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata karakter berasal dari kata “karakteristik” yang artinya sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya.[8] Selanjutnya, disebutkan bahwa karakter adalah ciri khusus atau mempunyai ciri khas yang sesuai dengan perwatakan tertentu.
J.P Chaplin berpendapat, character adalah watak atau sifat yang dapat dirumuskan dalam tiga pengertian, yaitu[9]:
1.      Kualitas atau sifat yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi.
2.      Integrasi atau sintesa dari sifat-sifat individual dalam bentuk satu atau kesatuan.
3.      Kepribadian seseorang dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau moral.
Sedangkan James Drever berpendapat beda, bahwa character digunakan dalam pengertian biologis terhadap suatu sifat dari suatu organisme dalam dimana ia dapat dibandingkan dengan organisme lainnya.[10] Di bidang psikologi digunakan kepada integrasi kebiasaan, sentimen dan ideal yang membuat tindakan seseorang relatif stabil dan dapat diramalkan, sifat khusus pada integrasi ini, atau tampil dalam aksi, disebut character traits dan tes yang disusun untuk mengungkapkan sifat demikian adalah personality test.
Dengan demikian, yang dimaksud peserta didik (siswa atau murid) adalah orang yang menginginkan (the wilier) ilmu, dan menjadi salah satu sifat Allah Swt. Yang berarti Maha Menghendaki.[11] Pengertian ini dapat dipahami karena seorang murid dalam pandangan pendidikan Islam adalah orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya agar bahagia di dunia dan akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh.
Istilah lain tentang peserta didik dalam pendidikan Islam adalah Al-Thalib, yaitu orang yang mencari sesuatu.[12] Artinya, seorang murid adalah orang yang tengah mencari ilmu pengetahuan, keterampilan dan pembentukan karakter tertentu.
Pengertian peserta didik dalam istilah al-thalib lebih bersifat aktif, mandiri, kreatif dan sedikit bergantung kepada guru.[13] Peserta didik sebagai al-thalib dalam beberapa hal dapat meringkas, mengkritik dan menambahkan informasi yang disampaikan oleh guru. Dalam konteks ini, seorang guru dituntut bersifat terbuka, demokratis, memberi kesempatan dan menciptakan suasana belajar yang saling mengisi, dan mendorong peserta didik memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. Dengan demikian, pembelajaran dari guru harus merangsang peserta didik untuk belajar, berfikir, melakukan penalaran yang memungkinkan peserta didik dan guru tercipta hubungan mitra belajar. Minat dan pemahaman, timbal balik antara guru dan peserta didik ini akan memperkaya kuri-kulum dan kegiatan belajar mengajar pada kelas bersangkutan.
Selanjutnya, istilah yang berhubungan erat dengan pengertian peserta didik yaitu al-muta’allim, yaitu orang yang mencari ilmu pengetahuan. Istilah muta’allim yang menunjukkan pengertian peserta didik, sebagai orang yang menggali ilmu pengetahuan merupakan istilah yang popular dalam karya-karya ilmiah para ahli pendidikan Islam.
Berdasarkan pengertian istilah “karakter” dan “peserta didik” dari para ahli di atas, dapat dipahami bahwa karakter peserta didik berarti sifat-sifat yang dimiliki individu sebagai siswa yang dapat diidentifikasi sebagai orang yang mencari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh untuk bekal di masa depan baik kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan demikian, masing-masing individu akan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan kedudukan individu tersebut.
C.     Macam-macam karakter anak didik
Peserta didik dalam pendidikan Islam merupakan unsur manusiawi yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbedabeda. Perbedaan pengalaman tersebut, dapat melahirkan kepribadian yang berbeda pula. Teori ini yang dianut oleh aliran empiris-me, yang percaya bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman empiris. Di sisi lain, anak didik sebagai makhluk ciptaan Allah, lahir ke alam dunia ini sudah memiliki pembawaan masing-masing yang diciptakan-Nya, pembawaan ini pun dapat menentukan kepribadian seseorang. Teori ini banyak dianut oleh aliran Nativisme, yang mengatakan bahwa anak ditentukan oleh pembawaan; baik buruk seseorang tergantung pembawaannya. Namun demikian, pendidikan Islam tidak memandang kedua hal tersebut secara berlawanan, melainkan antara pembawaan dan pengalaman empiris saling melengkapi dan saling menunjang dalam pembentukan karakteristik seseorang.
Prinsip-prinsip yang memberikan landasan kokoh tentang karakter peserta didik dalam pendidikan Islam yaitu: sabar, ikhlas, jujur, tawadhu’, qana’ah, toleran, tha’at, tawakal, khauf dan raja, serta syukur.
1.      Sabar
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kesabaran terdiri dari pengetahuan, keadaan, dan amal. Pengetahuan di dalamnya seperti pohon, keadaan seperti ranting-ranting, dan amal seperti buah. Atas dasar pengertian ini, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa maslahat keagamaan terdapat dalam kesabaran, sehingga dalam diri manusia harus timbul kekuatan dan dorongan untuk melakukan kesabaran.[14]
2.      Ikhlas
Ikhlas adalah perbuatan membersihkan dan memurnikan; sesuatu yang bersih dari campuran yang mencemarinyaJika suatu perbuatan bersih dari riya’ dan ditunjukkan bagi Allah Ta’ala, perbuatan itu dianggap Khalis
3.      Jujur
Salah satu sifat seorang peserta didik yang dapat menentukan kepercayaan orang lain, baik guru maupun teman sesamanya, adalah kejujuran. Jujur dapat ditandai dengan sikap terbuka atas apa yang sebenarnya ada atau terjadi pada dirinya.
4.      Tawadhu’
Menjelaskan, bahwa yang dimaksud tawadhu’yaitu mengakui kebenaran dari orang lain dan rujuk dari kesalahan kepada kebenaran. murid harus bersikap tawadhu terhadap ilmu dan guru, karena hanya dengan sikap tawadhu itulah ilmu dapat tercapai.
5.      Qana’ah
Qana’ah adalah menerima cukup. Qana’ah merupakan kekayaan yang sebenarnya. Rasulullah Saw bersabda:“Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, kekayaan ialah kekayaan jiwa” . Dengan demikian, sifat qana’ah berkaitan erat dengan cara penerimaan dan kondisi psikologis seorang anak didik terhadap apa yang diperolehnya. Sifat qana’ah ini, tidak hanya berkaitan dengan cara penerimaan terhadap materi, tetapi juga berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.[15]
6.      Toleran
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sifat toleran seorang pelajar adalah menghindarkan perbedaan yang menyebabkan perpecahan demi meraih lezatnya persaudaraan. Oleh karena itu, sifat toleran dapat menimbulkan persaudaraan yang terpelihara dan terhindar dari saling permusuhan.[16]
7.      Tha’at
Imam Syafi’i berkata “aku mengadukan masalahku kepada guruku bernama Waki’, karena kesulitan dalam mendapatkan ilmu (sulit menghapal). Guruku itu menasehatiku agar menjauhi perbuatan maksiat. Selanjutnya, guruku mengatakan bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat”. Ungkapan Imam Syafi’i itu mengisyaratkan bahwa ilmu itu hakikatnya cahaya dari Allah, dan hal itu hanya diberikan kepada hamba-Nya yang tha’at.[17]
8.      Tawakkal
Tawakal berarti pengandalan hati kepada Tuhan Yang Maha Pelindung karena segala sesuatu keluar dari ilmu dan kekuasaan-Nya, sedangkan selain Allah tidak dapat membahayakan dan tidak dapat memberinya manfaat.
9.      Khauf dan Raja
Harapan (raja) dan takut (khauf ) termasuk kedudukan para penempuh jalan Allah dan keadaan para pencari ridha Allah. Sifat yang ditunggu apabila menimbulkan kesedihan di hati dinamakan rasa takut (khauf ). Jika menimbulkan kegembiraan maka dinamakan harapan.[18]
Berkaitan dengan hal tersebut, Asma Hasan Fahmi mengatakan, “para pelajar mendapat penghormatan dan penghargaan karena mereka mencari sesuatu yang amat tinggi nilainya dalam dunia ini, yaitu ilmu pengetahuan”.[19]
D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi karakter anak didik
Sardiman AM. menjelaskan, bahwa karakter peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya.[20] Berdasarkan pada pengertian yang dikemukakan Sardiman tersebut, dapat dipahami bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi karakter peserta didik secara umum yaitu; faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Kedua faktor ini yang dominan mempengaruhi karakteristik peserta didik.
1.      Faktor Internal
Fleksibilitas (kelenturan) sifat peserta didik ditinjau dari segi fisiologi, yaitu hasil dari hakikat jaringan urat syaraf dan sel-sel otak.[21] Syaraf dapat dipengaruhi oleh perulangan latihan yang menghasilkan adat kebiasaan sifat tertentu.
2.      Faktor Lingkungan
Lingkungan tempat peserta didik hidup diyakini besar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian dan karakter peserta didik, Faktor lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Keluarga, merupakan lingkungan yang pertama dan utama dialami oleh seorang peserta didik. Situasi keluarga akan turut menentukan bagaimana karakter peserta didik dibentuk. Sedangkan sekolah, merupakan lingkungan tempat bertemu peserta didik dengan teman-teman yang lain. Pertemuan mereka datang dari berbagai budaya dan sosial yang berbeda-beda. Seorang peserta didik yang secara psikologis berada pada masa pencarian identitas, akan mengikuti gaya hidup temannya yang lain yang dianggapnya cocok dengan dirinya.
Dengan demikian, untuk terbentuknya karakter peserta didik yang baik perlu dibangun suatu lingkungan yang baik, agar peserta didik dalam menjalani hidupnya menuju pada pembinaan sifat-sifat yang positif. Walaupun pada awalnya sifat seorang peserta didik adalah baik, namun karena hidup dalam lingkungan yang tidak baik, ia dapat mengalami penyimpangan dan perubahan kepribadian sesuai dengan watak lingkungan itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tentang karakter dan sifat peserta didik tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan dengan pemaparan berikut:
1.      Pada Hadis di atas ada tiga karakter manusia sebagai anak didik dalam menerima ilmu atau petunjuk yang diumpamakan seperti ragam tanah atau Bumi ketika menerima siraman hujan dari langit, sebagai berikut:
a.       Bagaikan Bumi subur
b.      Bagaikan Bumi tandus dan gersang
c.       Bagaikan Bumi licin mendatar
2.      Prinsip-prinsip yang memberikan landasan kokoh tentang karakter peserta didik dalam pendidikan Islam yaitu: sabar, ikhlas, jujur, tawadhu’, qana’ah, toleran, tha’at, tawakal, khauf dan raja, serta syukur.
3.      Ada dua faktor yang mempengaruhi karakter peserta didik, yaitu
a.       Faktor Internal
b.      Factor eksternal
B.     Implikasi Pendidikan
Adapun beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari hadist di atas adalah :
a.       Anjuran menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya secara serius dan sungguh-sungguh
b.      Karakter anak didik dalam menerima pelajaran ilmu bagaikan Bumi yang disirami air di antara Bumi ada yang subur, ada yang tandus, da nada yang licin berlumut.
c.       Karakter anak didik dalam menerima pelajaran ilmu: pertama, paham ilmu mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Kedua, paham ilmu tidak mengamalkan tetapi mengajarkannya kepada orang lain. Ketiga. Tidak paham, tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya.
d.      Keutamaan penggabungan belajar dan mengajar
Dengan demikian, implikasi pendidikannya bahwa seorang siswa harus menghiasi diri dengan kesucian jiwa dan akhlak mulia dalam menuntut ilmu, sehingga dapat menerima pancaran cahaya ilmu dari Allah Swt. Jika tidak demikian, ilmu yang didapatkan oleh seorang peserta didik menjadi kurang bermanfaat dan tidak menghantarkan pemilik ilmu tersebut pada derajat takwa.




DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin Jakarta: Pustaka Amani, 1995.
Al-Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin Jakarta: Pustaka Amani, 1995, Jilid I.
AM, Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press, 2000.
Chaplin, J.P. Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: Rajawali Press, 1999.
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996.
Fahmi, Asma Hasan. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Hamka, Tasawuf Modern Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990
James Drever, Kamus Psikologi, Jakarta: Bina Aksar, 1986.
Khon, Abdul Majid. Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2014
Nata, Abuddin Filsafat Pendidikan Islam Jakarta: Logos, 1997.
Nata, Abuddin. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Dan Murid Jakarta: Rajawali Press, 2001
Tafsir, Ahmad. Epistimologi Untuk Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Fakultas Tarbiyah UUN Sunan Gunung Djati Bandung, 1995.




[1] Ahmad Tafsir, Epistimologi Untuk Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Fakultas Tarbiyah UUN Sunan Gunung Djati Bandung, 1995), h. 15
[2] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2014) h. 99-100
[3] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, h. 107-108
[4] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, h. 108-109
[5] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, h.109-110
[6] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, h. 110-111
[7] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, h. 111-112
[8] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Depdikbud, 1996), h. 445
[9] J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: Rajawali Press, 1999), h. 82
[10] James Drever, Kamus Psikologi (Jakarta: Bina Aksar, 1986), h. 53.
[11] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Dan Murid (Jakarta: Rajawali Press, 2001), h. 50.
[12] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Dan Murid, h. 51
[13] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Dan Murid, h. 52
[14] Al-Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h. 256
[15] Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990), h. 228
[16] Al-Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin (Jakarta: Pustaka Amani, 1995, Jilid I), h. 120
[17] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Logos, 1997), h. 80
[18] Al-Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin, h. 261
[19] Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 174
[20] Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press, 2000, h. 118
[21] Al Syai bani, Falafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bintang, 1979), h. 156


EmoticonEmoticon