Kamis, 08 Desember 2016

MAKALAH HUBUNGAN FILSAFAT ISLAM DENGAN FILSAFAT LAINNYA

Tags

HUBUNGAN FILSAFAT ISLAM DENGAN
FILSAFAT LAINNYA
A. Latar Belakang Masalah
Pembicaraan mengenai sejarah pemikiran Islam tidak akan lepas dari membahas seputar perkembangan Islam, mulai dari pokok-pokok ajaran Islam, sistem ajaran Islam, pemikiran politik, dan hukum Islam pada masa Nabi saw, masa Khulafa ar-Rasyidin, Dinasti Umayyah, dan Dinasti Abbasiyah. Kemudian pemikiran Islam semakin mengalami perkembangan dengan munculnya pemikiran teologi yang pertumbuhannya semakin berkembang, diikuti dengan munculnya sufisme dan tarekat sampai lahirnya filsafat Islam.[1]
Pada perkembangannya Islam memiliki banyak persoalan-persoalan yang memerlukan pemikiran untuk dapat menyelesaikannya. Tentu saja dalam memecahkan persoalan memerlukan peran akal yang optimal, sehingga muncullah filsafat Islam. Sejalan dengan itu filsafat Islam sendiri memiliki sisi historis yang cukup panjang, karena ketika berbicara tentang filsafat Islam tentu saja tidak akan terlepas dari filsafat Yunani (Barat). Hal ini karena filsafat Yunani mempunyai pengaruh dan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan filsafat Islam. Dan tidak menutup kemungkinan ada juga pengaruh dari filsafat-filsafat lain yang berkembang saat itu, semisal filsafat dari Persia, India, dan China (Timur).[2]
Sebelum filsafat itu sendiri dikenal luas dikalangan umat Islam, mereka terlebih dahulu mengenal ilmu kalam. Ilmu yang mempelajari tentang ketuhanan dan berbagai cabangnya, termasuk didalamnya tentang kenabian dan hari akhir. Sampai akhirnya persentuhan atau hubungan filsafat Islam dengan filsafat Yunani bermula sebagai akibat perluasan hegemoni politik kaum muslimin ke daerah yang dahulu dikuasai oleh Alexander the Great pada awal abad VII Masehi, diantaranya Mesir, Syiria, Mesopotamia, dan Persia. Sejak itulah mulai terjadi asimilasi integrasi antara budaya Islam dan budaya Yunani (Helenisme) yang dibawa Alexander the Great hingga lahirlah filsafat Islam.[3]
Melihat kuatnya hubungan antara filsafat Islam dengan filsafat Yunani (Barat) disamping hubungan dengan filsafat lainnya, maka penulis mencoba mengkaji hubungan filsafat Islam dengan filsafat lainnya secara mendalam dan komprehensif. Oleh karena itu diantara pembahasan dalam makalah ini, meliputi: (1) Pertumbuhan dan perkembangan filsafat Islam; (2) Hubungan filsafat islam dengan ilmu-ilmu Islam lainnya; dan (3) Hubungan filsafat Islam dengan filsafat lainnya.

B. Pertumbuhan dan Perkembangan Filsafat Islam
Secara umum atau eksternal, pertumbuhan filsafat Islam adalah karena adanya usaha penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa arab yang tersimpan di perpustakaan kuno daerah-daerah yang telah dikuasai umat Islam, seperti Alexanderia, Antioch, Edessa, Harran, dan Judinsapur. Kota-kota tersebut notabene dulunya adalah pusat ilmu pengetahuan berbasis filsafat Yunani (helenisme).[4]
Secara khusus atau internal, sebelum filsafat dikenal oleh kaum muslimin. Mereka terlebih dahulu mempelajari ilmu kalam yaitu ilmu tentang ketuhanan dan berbagai cabangnya. Hal ini diawali dengan timbulnya perpecahan di antara umat Islam antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah yang akhirnya memunculkan aliran-aliran teologi dalam Islam, semisal syiah, murjiah, dan khawarij, kemudian aliran-aliran tersebut terpecah lagi menjadi beberapa aliran masing-masing, diantaranya mutazilah pada masa Abbasiyah yang banyak meminjam konsep-konsep filsafat Yunani dalam hal logika sebagai dasar kebebasan berpikir dan kebebasan berkehendak dalam teologinya. Mereka menggunakan alat yang bernama logika formal yang biasa digunakan oleh filsafat dalam mencari hakikat kebenaran. Dan disinilah benih filsafat Yunani ditanamkan dalam Islam sehingga lahir filsafat Islam.[5]
Usaha transliterasi buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa Arab sejatinya sudah dimulai pada masa Umayyah yang dipelopori oleh Khalifah Khalid bin Yazid, Marwan bin Hakam, dan Umar bin Abdul Aziz, lalu hasil karya terjemahan disimpan diperpustakaan negara. Filsafat Yunani baru mendapat perhatian besar pada masa Abbasiyah saat Khalifah Makmun berkuasa, karena pada masa itu aliran mutazilah yang mengadopsi filsafat Yunani menjadi mazhab teologi resmi negara. Buku-buku filsafat yang diterjemahnyapun bukan hanya filsafat dari  Yunani, tetapi juga diseantero negeri seperti buku-buku filsafat dari Persia, India, dan China.[6]
Usaha penerjemahan buku-buku filsafat baik dari Barat maupun Timur pada masa Abbasiyah berjalan melalui tiga tahap periode, yaitu:[7]
1.      Periode pertama, masa Khalifah Manshur al-Rasyid sampai Harun al-Rasyid pada abad ke-8 Masehi. Pada masa ini dibentuk suatu tim penerjemah yang bertugas mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab.
2.      Periode kedua, masa Khalifah Makmun al-Rasyid pada abad ke-9 Masehi. Dalam periode ini Khalifah Makmun mendirikan Bait al-Hikmah di Baghdad sebagai suatu institusi pusat penerjemahan dan pengembangan filsafat dan sains. Bukan hanya di Baghdad, Bait al-Hikmah juga didirikan di daerah-daerah kekuasaan Abbasiyah seperti di kota Marwa (Persia Tengah) khusus untuk menerjemahkan buku dalam bidang matematika dan astronomi, di kota Judinsapur khusus untuk menerjemahkan buku yang menyangkut obat-obatan dan kedokteran, dan di kota Harran khusus untuk menerjemahkan buku filsafat dan kedokteran. Bait al-Hikmah sendiri didirikan Khalifah Makmun al-Rasyid dengan mengangkat seorang nasrani ahli bahasa Yunani yaitu Hunain bin Ishaq sebagai pemimpinnya. Dan pada masa ini pula lahir dalam Islam seorang filosof muslim yang terkenal yaitu al-Kindi.
3.      Periode ketiga, terjadi sekitar abad ke-10 Masehi. Periode ini merupakan periode terakhir zaman penerjemahan secara besar-besaran buku-buku filsafat lain ke dalam dunia Islam. Dipelopori oleh Abu Bisr Matta bin Yunus al-Qannai (940 M), Yahya bin Adi al-Mantiqy (974 M), dan Ishaq bin Ishaq bin Zara (1008 M), mereka melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha penerjemahan periode kedua dengan memberikan komentar dan penjelasan (syarah) buku-buku filsafat Aristoteles.
Meskipun filsafat Yunani memberikan kontribusi dan pengaruh besar terhadap filsafat islam, tapi perlu digarisbawahi bahwa bukan berarti para filosof Islam menerima mentah-mentah segala pemikiran filosof Yunani. Filsafat Yunani dapat dikatakan sebagai sumber rujukan yang dipelajari para filosof Islam karena terbukti mereka memiliki pandangan dan teori filsafat sendiri dengan corak Islam. Artinya filsafat Islam bukan merupakan pengekor, tetapi sebagai pelopor pengembangan filsafat Yunani. Dan dari upaya penerjemahan yang dilakukan maka pada saat itu umat Islam mencapai puncak kejayaan peradaban (Golden Age) karena mereka mampu menguasai tiga warisan jenis kebudayaan filsafat Yunani, filsafat Persia, dan filsafat India. Tapi sayangnya, kejayaan ilmu ini hanya dapat bertahan sampai abad ke-13 Masehi, kemudian pusat ilmu tersebut diambil alih oleh orang-orang Barat (Eropa).[8]  
Sedangkan untuk perkembangan filsafat Islan itu sendiri dapat dibagi menjadi beberapa periode, antara lain:[9]
1.      Periode mutakallimin, merupakan masa pendekatan filsafat yang mulai membicarakan mengenai segala masalah mengenai keagamaan Islam. Tapi banyak yang berargumen bahwa masa ini filsafat Islam belum muncul melainkan teologi Islam, hal ini terbukti dengan munculnya aliran-aliran teologi seperti khawarij, murjiah, syiah, mutazilah, asyariyah, jabariyah, dan lainnya.
2.      Periode sistematik awal di timur, masa ini ditandai dengan munculnya pemikiran dari al-Kindi yang hidup pada masa Abbasiyah. Disusul dengan kemunculan para filosof Islam besar lainnya semisal al-Farabi, Ibnu Sina, dan lainnya.
3.      Periode sistematik di barat, berpusat di Cordoba, Andalusia (Spanyol) pada masa Umayyah II. Pada masa ini banyak melahirkan filosof besar Islam semisal Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Ibnu Thufail, dan lain-lain.
4.      Periode mistik atau filsafat iluminasi, yang melahirkan para filosof Islam seperti Suhrawadi, Mulla Sudra, Ibnu Arabi, dan lainnya.
5.      Periode modern atau pembaharu, yang melahirkan para filosof Muslim seperti Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Jamaluddin al-Afghani, dan lain-lain.
6.      Periode kontemporer, melahirkan filosof Islam seperti Faziur rahman, Murtadha Muthahari, dan lain-lain.
Menurut Jalaludin dan Usman Said dalam Milawati, bahwa perkembangan filsafat Islam secara ringkas dibagi menjadi tiga tahap atau periode, yaitu:[10]
1.      Periode awal perkembangan Islam, merupakan pemikiran yang bersumber dari al-Quran dan hadis yang tentu sudah dimulai sejak masa Nabi Muhammad saw yang kemudian menjadi teladan bagi manusia.
2.      Periode klasik, mulai ditandai pada masa pasca pemerintahan Khulafa Rasyidin sampai masa imperialis Barat dengan rentang waktunya pada masa awal Umayyah zaman keemasan Islam dan kemunduran kekuasaan Islam secara politis hingga awal abad ke-19 Masehi.
3.      Periode modern, masa ini ditandai dengan dikuasainya daerah-daerah kekuasaan Umayyah dan juga Abbasiyah oleh imperialis Barat.

C. Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam Lainnya
Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosopy, terdiri dari philo artinya cinta dalam arti yang luas, yakni keinginan dan sophia artinya hikmah, kebijaksanaan, atau kebenaran. Jadi secara etimologis filsafat adalah cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom).[11] Dalam bahasa Arab filsafat diartikan dengan falsafah artinya pengetahuan tentang asas-asas pikiran dan perilaku, sedangkan filosof adalah orang-orang yang ahli ilmu filsafat.[12] Secara terminologis menurut Burhanuddin Salam, bahwa filsafat adalah kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencari kebijakan atau kearifan dengan budi murni.[13]
Sedangkan kata Islam secara semantik berasal dari kata salima artinya menyerah, tunduk, dan keselamatan. Secara istilah Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah swt dan dengan menyerahkan diri kepada-Nya dalam bentuk ketaatan maka ia memperoleh keselamatan dan kedamaian.[14]
Jadi filsafat Islam dapat diartikan sebagai kegiatan berpikir yang bebas, radikal, dan berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak, dan karakter yang menyelamatkan dan memberikan kedamaian hati.[15]
Jelasnya Sidi Gazalba memberikan konsep bingkai filsafat Islam sebagai berikut, “Bahwa Tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan nakal (wahyu atau sunnah) untuk dia. Dengan akal itu ia membentuk pengetahuan, dan apabila pengetahuan manusia itu digerakkan oleh nakal menjadilah ia filsafat Islam”. Wahyu dan sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan kebenarannya dengan riset, maka tugas filsafat Islamlah yang memberikan keterangan, ulasan, dan tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal, dan umum.[16]
Dalam tradisi intelektual Islam, istilah filsafat dibedakan menjadi tiga istilah umum, antara lain:[17]
1.      Hikmah, istilah hikmah diadopsi dari al-Quran yaitu tentang kisah Luqman Hakim seseorang yang bukan Nabi maupun Rasul namun mendapatkan hikmah (kebijaksanaan) dari Allah swt. Allah swt berfirman dalam al-Quran:

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ١٢
Terjemahnya:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS Luqman [31]: 12)[18]

2.      Falsafah, istilah yang diserap kedalam kosakata Arab melalui terjemahan karya-karya Yunani Kuno. Al-Kindi mendefinisikan falsafah sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu kemampuan manusia. Falsafah menurutnya adalah “Al-falsafah awwaluha mahabbatul ulum, wa akhiruha al-qaul wa al-amal bi ma yuwafiq al-ilm”.
3.      Ulum al-awal, istilah yang artinya ilmu-ilmu orang zaman dulu, yaitu ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban kuno pra-Islam seperti India, Persia, Yunani, dan Romawi. Termasuk didalamnya adalah ilmu logika, matematika, astronomi, fisika, biologi, kedokteran, dan sebagainya.
Secara umum objek bahasan filsafat Islam sama dengan filsafat Barat (Yunani) yaitu menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang manusia, dan tentang segala realitas yang nampak di hadapan manusia (alam), dengan tiga pokok bahasan meliputi: (1) Ontologi atau al-wujud yakni pembahasan mencakup hakikat segala sesuatu yang ada (al-manjudad); (2) Epistimologi atau al-marifat yakni membahas hakikat pengetahuan dan cara bagaimana atau dengan sarana apa pengetahuan dapat diperoleh; dan (3) Aksiologi atau al-qayyim yakni pembahasan tentang hakikat nilai.[19]
Berdasar objek kajian filsafat Islam di atas maka dapat digambarkan hubungan filsafat Islam dengan ilmu-ilmu Islam lainnya, terutama ilmu kalam, ilmu tasawuf, dan ilmu fikih, antara lain sebagai berikut:
1.      Hubungan filsafat islam dengan ilmu kalam, dapat dijelaskan dibawah ini:[20]
a.       Filsafat Islam mengandalkan akal dalam mengkaji objeknya Allah, alam, dan manusia tanpa terikat dengan pendapat yang ada (pemikiran-pemikiran yang sama sifatnya, hanya berfungsi sebagai sebatas masukan dan relatif). Nash-nash agama hanya sebagai bukti untuk membenarkan hasil temuan akal.
b.      Ilmu kalam mengambil dalil akidah sebagai tertera dalam wahyu yang mutlak kebenarannya untuk menguji objeknya Allah dan sifat-sifat-Nya, serta hubungan Allah dengan alam dan manusia sebagai tertuang dalam kitab suci, menjadikan filsafat sebagai alat untuk membenarkan nash agama.
Artinya walaupun objek dan metode kedua ilmu ini berbeda tetapi tetap saling melengkapi dan memahami Islam dan pembentukan akidah muslim.
2.      Hubungan filsafat Islam dengan ilmu tasawuf; Tasawuf sebagai suatu ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang muslim berada sedekat mungkin dengan Allah swt dapat dibedakan menjadi tasawuf amali (akhlaqi) dan tasawuf falsafi. Objek filsafat membahas segala sesuatu yang ada, baik fisika maupun metafisika yang dikaji dengan mempergunakan argumentasi akal dan logika. Sedang objek tasawuf pada dasarnya mengenal Allah swt baik dengan jalan ibadah, riyadhoh, maupun ilham dan intuisi.[21]
3.      Hubungan filsafat islam dengan ilmu fikih; Dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hukum diperlukan ijtihad, yaitu suatu usaha dengan menggunakan akal dan prinsip kelogisan untuk mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum dari sumbernya. Mengingat pentingnya ijtihad ini para pakar hukum Islam menganggapnya sebagai sumber hukum ketiga setelah al-Quran dan hadis, termasuk dalam ijtihad tersebut adalah qiyas, yaitu menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang lain yang ada nash hukumnya atas dasar persamaan illat (sebab), dan dalam menentukan persamaan diperlukan pemikiran mendalam (filsafat). Sehingga tanpa filsafat, maka ilmu fikih akan kehilangan semangat untuk perubahan dan fikih menjadi beku atau statis dalam menghadapi problematika umat yang semakin berkembang. Hal ini bisa saja terjadi karena tanpa filsafat maka ijtihad menjadi terbelenggu.[22]
Dalam konteks problematika manusia modern, filsafat Islam berperan urgen sebagai landasan adanya integrasi berbagai disiplin ilmu dengan pendekatan multidicipline approach, karena dalam bangunan epistimologi Islam mau tidak mau filsafat Islam dengan metode rasional transidentalnya (intgerasi akal dan wahyu) dapat menjadi dasar sebagai solusi terhadap problematika dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dewasa ini.[23]
D. Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Lainnya
Proses sejarah masa lalu tidak dapat dielakkan begitu saja, bahwa pemikiran filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani, meskipun filsafat Islam memiliki karakter tersendiri. Realitanya para filosof Islam banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik pada pemikiran-pemikiran Platinus, akibatnya banyak teori-teori filsafat Yunani diambil oleh filosof Islam.[24]
Hal itulah yang menyebabkan para orientalis menuduh bahwa filsafat Islam hanya plagiasi dan duplikasi terhadap filsafat Yunani yang lebih orisinil. Selanjutnya, secara garis besar perspektif kaum orientalis terhadap hubungan filsafat Islam dengan filsafat Yunani berkenaan dengan kelahirannya dibagi menjadi tiga perspektif, diantaranya:[25]
1.      Perspektif pertama, dipegang oleh mayoritas orientalis yang mengatakan, “it is Greek philosophy in Arabic garb”, bahwa filsafat Islam adalah kelanjutan dari filsafat Yunani klasik. Mereka beranggapan bahwa filsafat merupakan produk murni Yunani, sedang filsafat Islam hanya sebagai pengekor saja.
2.      Perspektif kedua, menganggap bahwa filsafat Islam itu merupakan reaksi terhadap doktrin-doktrin agama lain yang telah berkembang pada masa lalu. Para pemikir muslim dituduh telah mencomot dan terpengaruh oleh tradisi Yunani-Kristen. Pendapat ini diwakili oleh Rahib Maimonides yang mengatakan, “Ketahuilah olehmu bahwa semua yang dilontarkan oleh orang Islam dari golongan Mutazilah dan Asyariyah mengenai masalah-masalah ini berasas pada sejumlah proposisi-proposisi yang diambil dari buku-buku orang-orang Yunani dan Syiria yang ditulis untuk menyanggah para filosof dan mematahkan argumen-argumen mereka.
3.      Perspektif ketiga, merupakan kaum revisionis yang memandang filsafat Islam itu lahir dari kegiatan intelektual selama berabad-abad semenjak kurun pertama Islam. Ditandai dengan perdebatan mengenai masalah kemahakuasaan dan keadilan Tuhan, tentang hakikat kebebasan dan tanggung jawab manusia yang dianggap sebagai cikal bakal tumbuhnya filsafat. Munculnya kelompok-kelompok teologi (kalam) seperti khawarij, syiah, mutazilah, dan lain-lain yang melontarkan pelbagai argumen rasional disamping merujuk kepada ayat-ayat al-Quran merupakan sinyal kuat mendorong berkembangnya pemikiran filsafat dalam Islam. Pandangan kaum revisionis ini menganggap bahwa filsafat Islam adalah suatu nama generik keseluruhan pemikiran yang lahir dan berkembang dalam lingkungan peradaban Islam, terlepas ia berbangsa Arab maupun Ajam, dari sejak zaman dahulu hingga sekarang. Artinya filsafat Islam itu luas dan kaya, ia tidak bermula dari al-Kindi dan berhenti dengan kematian Ibnu Rusyd. Diantara tokoh yang mewakili kaum revisionis ini adalah Oliver Leaman yang mengatakan, “Framed within the language of Islam, within the culural context of Islamic society”.
Menurut Abu Ahmadi sebagaimana dikutip Syamsuddin dalam websitenya, bahwa hubungan filsafat Islam dengan filsafat lainnya meliputi filsafat Barat (Yunani) maupun filsafat Timur (Persia dan India) ditinjau dari perspektif historis adalah sebagai berikut:[26]
1.      Filsafat Islam dimulai dengan bahan-bahan dari Yunani kemudian dimasak dengan pokok-pokok pelajaran Islam, sehingga pendapat yang mengatakan filsafat Islam merupakan kelanjutan dari filsafat Yunani adalah pendapat yang keliru. Hal ini karena filsafat Yunani merupakan hasil revolusi fikiran terhadap apa yang dinamakan dogmatic dicta sebagai solusi atas berkembangnya paham mitologis Yunani, sedangkan filsafat Islam dilahirkan untuk memperkuat kedudukan faham Islam. Bahkan dalam Islam, ijtihad yang notabene sebagai alat pemikiran mendalam dan rasional yang bersumber dari metode berfilsafat dijadikan hukum Islam ketiga setelah al-Quran dan Hadis.
2.      Sebelum Islam lahir, di seluruh Asia Tengah termasuk negeri Arab telah tumbuh dan berkembangnya berbagai alam fikiran dan filsafat, misalnya faham Mesir kuno, Babilonia, Assyria, Iran, India, China, dan filsafat atau pikiran Yunani. Sedangkan di Yunani sendiri kegiatan filsafat muncul sebagai reaksi koretif terhadap kehidupan masyarakat yang penuh dengan ajaran tahayul dan mythologis yang tidak amsuk akal (rasional), hal ini karena filsafat memperoleh kebenaran dengan perjalanan fikiran, sedang agama mendapatkannya secara dogmatis. Oleh karena itu pengaruh filsafat atau pikiran filosof  Yunani diadopsi oleh para filosof Islam dalam rangka mengokohkan kedudukan ajaran Islam. Sebuah ungkapan mengatakan, “Filsafat tanpa agama sesat,s edang agama tanpa filsafat dangkal”.
3.      Dalam rekaman sejarah, cara terjadinya kontak antara umat Islam dan filsafat Yunani melalui daerah Syiria, Mesopotamia, Persia, dan Mesir. Filsafat Yunani datang ke daerah-daerah ini saat penaklukan Alexander the Great ke Timur pada abad Yunani dan persia dalam satu negara, dengan cara alkulturasi budaya Yunani-Persia melalui jalan perkawinan, persaudaraan, kesenian, dan lainnya.
4.      Di sisi lain pada tahun 529 Masehi di Bizantium terjadi pelenyapan semua akademisi filsafat Yunani dan pengusiran para filosofnya oleh Kaisar Justinianus, karena menurutnya ajaran filsafat bertentangan dengan agama Masehi. Para filosof yang terusir kemudian menyebar di sekitar negeri Bizantium yang kelak dikuasai oleh umat Islam.
Adanya hubungan filsafat Islam dengan filsafat Barat (Yunani) dan filsafat Timur (Persia, India, dan China) menyebabkan para filosof Islam tidak hanya menguasai filsafat dan sains, tetapi mereka juga mampu mengembangkan dan menambahkan hasil observasi mereka ke dalam bahasa sains dan hasil pemikiran mereka ke dalam lapangan filsafat.[27]
Berdasar hubungan filsafat Islam dengan filsafat lainnya ditinjau dari perspektif historis di atas, maka dapat ditarik suatu konteks korelasi antara filsafat Islam dengan filsafat lainnya. Oleh karena itu menurut Zaimul Am, bahwa konteks korelasi antara filsafat Islam dengan filsafat lainnya dapat dibagi menjadi tiga ranah korelasi, antara lain:[28]
1.      Ranah akulturasi, yakni ketika dua budaya yang berbeda saling berhadapan. Hal ini dimulai dari aktivitas penerjemahan karya-karya filsafat Yunani klasik ke dalam bahasa Arab sehingga terjadi proses asimilasi oleh Islam (sebagai pusat baru kehidupan spiritual umat manusia) terhadap semua kontribusi budaya yang sudah ada sebelumnya, baik di Timur (Persia dan India), maupun di Barat (Yunani).
2.      Ranah integrasi, yakni ketika muncul pengakuan terhadap kebermaknaan suatu budaya oleh budaya lain, lalu aspek-aspek perbedaan antara keduanya coba dihilangkan. Hal ini dimulai ketika filosof muslim al-Kindi berusaha memadukan antara agama dan filsafat, antara wahyu dan akal, karena menurutnya antara akal dan wahyu adalah sama pentingnya dan keduanya merupakan sumber paling berharga bagi pengetahuan sebagai alat untuk mengetahui hakikat tertinggi.
3.      Ranah pelestarian, yakni ketika unsur tertentu dalam budaya asing bukan hanya diserap namun juga dikekalkan melalui pembentukan teori baru. Sebagai contoh usaha filosof Islam melanggengkan pengaruh filsafat Yunani dalam konstalasi pemikiran Islam dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
a.       Bagian pertama,  filsafat ketuhanan yang mencerminkan tekad para filosof Muslim untuk mensintesiskan ajaran Islam dengan teori-teori ketuhanan Yunani. Tujuan utama metode ini adalah untuk meneguhkan keyakinan atas keberadaan Tuhan melalui dalil akal (aqli) atau meningkatkan rasionalitas keimanan terhadap eksistensi Tuhan.
b.      Bagian kedua, teori emanasi yang bersumber dari Plotinus yang mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan alam, sebab pada kata penciptaan tersirat adanya pemikiran dan kehendak yang merupakan sifat makhluk daripada sifat Khlaik sang Maha Mutlak. Oleh karenanya al-Kindi, Farabi, dan Ibnu Sina beranggapan bahwa alam semesta tidtak diciptakan Tuhan, melainkan memancar dari Tuhan, yaitu sebuah pancaran yang tak terhindarkan dari wujud-Nya yang tak terbatas atau hasil niscaya dari kreativitas-Nya. Artinya, alam memancar dari Tuhan seperti cahaya memancar dari matahari.
c.       Bagian ketiga, mengenai epistimologi atau filsafat pengetahuan. Bagi al-Kindi pengetahuan identik dengan persepsi, baik persepsi melalui indera yang melahirkan konsepsi (tashawwur), maupun persepsi melalui akal yang menghasilkan putusan (tashdiq).
d.      Bagian keempat, mengenai filsafat etika. Pada bagian ini pengaruh filsafat Yunani terhadap para filosof Muslim dapat dibuktikan melalui adanya dua corak pemikiran etika dalam Islam. Pertama, sistem etika esketik yang diwarnai oleh ajaran-ajaran Phitagorean-Platonik. Kedua, corak Aristotolian yang lebih dekat kepada semangat ajaran Islam yakni bahwa kebaikan berada pada titik tengah di antara dua ujung ekstrem.
Di lihat dari hubungan filsafat Islam dan filsafat lainnya khususnya dengan filsafat Yunani di atas, menurut Sirajuddin Zar terdapat karakteristik mendasar dari filsafat Islam yang membedakan filsafat Islam dengan filsafat lain, yaitu:[29]
1.      Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat Yunani dan lainnya, seperti masalah ketuhanan, alam, dan ruh. Akan tetapi selain penyelesaian dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain, para filosof Muslim juga menambahkan dan mengembangkan kedalam hasil pemiliran mereka sendiri.
2.      Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas sebelumnya, seperti filsafat kenabian (al-nazariyat al-nubuwah).
3.      Filsafat Islam terdapat perpaduan antara agama dan filsafat, antara akidah dan hikmah, dan antara wahyu dan akal.

Secara rinci perbandingan antara filsafat Islam dengan filsafat lainnya, baik filsafat Barat maupun filsafat Timur dapat ditinjau dari sisi persamaaan dan perbedaan keduanya. Oleh karena itu diantara persamaan filsafat Islam dengan filsafat lain, adalah sebagai berikut:[30]
1.      Keduanya sama-sama menggunakan filsafat sebagai sarana untuk pengembangan pemikiran rasional.
2.      Keduanya mengembangkan sejumlah peradabannya melalui pengembangan sejumlah perpustakaan-perpustakaan.
3.      Keduanya menggunakan para ilmuwan spesialis sebagai pelaksana pengembangan keilmuannya.
4.      Keduanya mengembangkan progesif peradabannya melalui kegiatan kajian-kajian ilmiah di perguruan tinggi yang terkonsentrasi secara sistematis dan terencana.
5.      Keduanya mengalami kemajuan ketika keduanya sangat menghargai karya-karya ilmuwan mereka sehingga para ilmuwan dengan tekunnya menggeluti keahliannya masing-masing. Akan tetapi, keduanya mengalami kemerosotan setelah keduanya tidak memperhatikan kesejahteraan para ilmuwan sehingga para ilmuwan meninggalkan negeri keduanya.
Sedangkan perbedaan antara filsafat Islam dengan filsafat lainnya antara lain dapat dilihat sebagai berikut:[31]
1.      Filsafat merupakan sumber pemikiran ilmiah Yunani yang didasarkan pada hipotesa-hipotes dan proposisi-proposisi, sedangkan ilmu-ilmu Islam mendasarkan penyelidikan mereka atas dasar pengamatan dan percobaan.
2.      Orang-orang Yunani beranggapan bahwa pengetahuan inderawi lebih rendah daripada pengetahuan rasio. Jadi, pengetahuan inderawi kurang dapat diandalkan, efeknya mereka tidak mendirikan laboratorium-laboratorium untuk penelitian. Sedang ilmuwan-ilmuwan Islam tetap mengandalkan pemikiran rasional, namun mereka melakukan pembuktian melalui pengamatan dan percobaan melalui fasilitas-fasilitas laboratorium.
3.      Orang-orang Yunani hanya berpikir secara deduktif, sedang kaum muslimin diajari oleh al-Quran supaya berpikir induktif dengan cara perintah untuk memperhatikan alam sekitarnya, sebagaimana kaidah tafakkaru fii khalqillah wala tafakkaru fii dzatillah”.
4.      Ilmu-ilmu Yunani hanya sekedar sekumpulan informasi, namun ilmu-ilmu kaum Muslimin merupakan keseluruhan pengetahuan yang berdasarkan hukum dan teori.
5.      Yunani dalam jangka waktu 12 abad hanya melahirkan beberapa gelintir ilmuwan saja, sedangkan Islam dalam jangka 6-7 abad telah melahirkan ribuan ilmuwan besar dan menjadi peletak dasar ilmu-ilmu modern.
6.      Yunani hanya meninggalkan beberapa buah buku bernilai, sedangkan Islam telah meninggalkan beberapa ribuan karya tulis besar yang menjadi standar kajian ilmuwan Eropa di universitas-universitas mereka sampai kini.

E. Kesimpulan
Dari berbagai uraian pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa filsafat Islam adalah suatu ilmu yang didalamnya terdapat ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu. Filsafat Islam adalah filsafat yang diterapkan berdasarkan pada hukum Islam. Adapun hubungan filsafat Islam dengan filsafat lainnya terutama filsafat Yunani adalah sebagai pengembang, penerus sekaligus pelopor filsafat yang bercorak Islam.
Filsafat Islam mempunyai orisinilitas dan otentisitas tersendiri yang berbeda dengan filsafat lainnya, meskipun dalam bebrapa hal filsafat Islam ada yang terpengaruh dari pemikiran filosof Yunani dan peradaban lainnya. Namun itu tidak menghilangkan ciri keislamannya, yaitu berupa pandangan hidup yang bersumber dari al-Quran dan Hadis. Hal ini karena al-Quran telah berbicara mengenai Tuhan, manusia, alam semesta, dan moralitas yang sama sekali berbeda dengan apa yang pernah difikirkan para filosof lainnya.

F. Referensi
Al-Quran dan Terjemahnya bi Rosm Usmaniy, Departemen Agama RI, Madinah, al-Malik Fahd li Thibaat al-Mushaf asy-Syarif, 1418 H

Am, Zainul, “Konteks Hubungan Filsafat Barat dan Filsafat Islam”, dalam http:// mytirai.blogspot.co.id/2014/11/konteks-hubungan-filsafat-barat-dan.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Andre, “Perbedaan dan Persamaan antara Filsafat Yunani dan Filsafat Islam” dalam http://andresangpengusaha.blogspot.co.id/2010/06/perbedaan-dan-persamaan-filsafat.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Asyarie, Musa, Filsafat Islam Sunah Nabi dalam Berfikir, Yogyakarta, LESFI, 2002

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Agama, Cet. II, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999

Gazalba, Sidi, Ilmu, Filsafat dan Islam tentang Manusia dan Agama, Jakarta, Bulan Bintang, 1978

Hanifah, Herni, “Filsafat Barat dan Filsafat Islam”, dalam http://kesmasybk.blogspot.co.id/2013/05/filsafat-barat-dan-filsafat-islam.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Maulana, Riezky, “Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani dan Ilmu-Ilmu Lainnya” dalam http://azi3s-c0ol.blogspot.co.id/2009/01/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Milawati, “Pengaruh Filsafat Yunani terhadap Pertumbuhan Filsafat dalam Islam”, dalam http://wawasansejarah.com/pengaruh-filsafat-yunani-terhadap-pertumbuhan-filsafat-dalam-islam.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Nasution, Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid II, Jakarta, UI Press, 1986

Nasution, Hasyimsah, Filsafat Islam, Jakarta, Gaya Media Pratama, 2000

Rohayati, Elih, “Memahami Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani”, dalam http://elihrohayati.blogspot.co.id/2014/10/memahami-hubungan-filsafat-islam-dengan.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Salam, Burhanuddin, Filsafat Manusia: Anthropologi Manusia, Cet. II, Jakarta, Bina Aksara, 1988

Syamsuddin, Ichwan R., “Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani”, dalam http://ichwanparado.blogspot.co.id/2011/10/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA

Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989

Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2012



[1]Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), h. 2.

[2]Hasyimsah Nasuiton, Filsafat Islam, h. 2.

[3]Elih Rohayati, “Memahami Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani”, dalam http: elihrohayati.blogspot.co.id/2014/10/memahami-hubungan-filsafat-islam-dengan.html, di akses Sabtu 19 November 2016, 08.00 WITA.

[4]Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam, h. 10.

[5]Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid II (Jakarta: UI Press, 1986), h. 43.

[6]Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam, h. 11-13.

[7]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 9-10.

[8]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., h. 11.

[9]Milawati, “Pengaruh Filsafat Yunani terhadap Pertumbuhan Filsafat Islam”, dalam http:// wawasansejarah.com/pengaruh-filsafat-yunani-terhadap-pertumbuhan-filsafat-dalam-islam.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA.

[10]Milawati, http://wawasansejarah.com/pengaruh-filsafat-yunani-terhadap-pertumbuhan-filsafat-islam.html.

[11]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Cet II (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. xi.

[12]Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989), h. 323.

[13]Burhanuddin Salam, Filsafat Manusia: Anthropologi Manusia, Cet. II (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 5.

[14]Musa Asyarie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir (Yogyakarta: LESFI, 2002), h. 1.

[15]Musa Asyarie, Filsafat Islam..., h. 1.

[16]Sidi Gazalba, Ilmu, Filsafat, dan Islam, tentang Manusia dan Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 31.

[17]Herni Hanifah, “Filsafat Barat dan Filsafat Islam”, dalam http:kesmasybk.blogspot.co.id/ 2013/05/filsafat-barat-dan-filsafat-islam.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA.

[18]Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya bi Rosm Usmaniy (Madinah: Mujamma al-malik Fahd li Thibaat al-Mushaf asy-Syarif, 1418 H), h. 654.

[19]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., h. 6-8.

[20]Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam, h. 6.

[21]Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam, h. 7.

[22]Musa Asyarie, Filsafat Islam..., h. 34.

[23]Musa Asyarie, Filsafat Islam..., h. 32-34.

[24]Riezky Maulana, “Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani dan Ilmu-Ilmu Islam”, dalam http://azii3s-c0ol.blogspot.co.id/2009/01/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html, di akses  Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA.

[25]Herni Hanifah, http://kesmasybk.blogspot.co.id/2013/05/filsafat-barat-dan-filsafat-islam.html.

[26]Ichwan P. Syamsuddin, “Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani”, dalam http:// ichwanparado.blogspot.co.id/2011/10/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html, di akses Sabtu 19 November 2016, 08.00 WITA.

[27]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., h. 11.

[28]Zainul Am, “Konteks Hubungan Filsafat Barat dan Filsafat Islam”, dalam http://mytirai. blogspot.co.id/2014/11/konteks-hubungan-filsafat-barat-dan.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08.00 WITA.

[29]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., h. 12.

[30]Andre, “Perbedaan dan Persamaan antara Filsafat Yunani dan Filsafat Islam”, dalam http://andresangpengusaha.blogspot.co.id/2010/06/perbedaan-dan-persamaan-filsafat.html, di akses Sabtu, 19 November 2016, 08 WITA.

This Is The Newest Post

1 komentar so far

https://wsdsite.wordpress.com/2017/11/19/lorenzo-tidak-jamin-bakal-jadi-juara-motogp-2018/


EmoticonEmoticon