Minggu, 05 Januari 2014

konsep akal manusia dalam sejarah

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Islam adalah agama wahyu dan akal. Wahyu mempunyai kedudukan tersendiri, begitu juga akal. Islam menghargai akal dan menempatkannya pada tempat yang layak, sesuai fitrah manusia dan fungsi akal itu sendiri. Bila kita membuka Al Qur’an maka pasti kita akan menemukan kata “al-`aql” beserta pecahan kalimat dan perubahannya lebih dari lima puluh kali, begitu juga kata “Ulu l-albab” yang disebut hingga sepuluh kali lebih. Tujuannya adalah agar manusia benar-benar menggunakan akal yang dianugrahkan secara maksimal dan benar. Selain itu Al-Qur’an menjelaskan bahwa salah satu sebab terjerumusnya manusia ke dalam api neraka adalah tidak menggunakan akal dengan baik.[1]
Kedudukan akal dan wahyu dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. karena Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga mnghasilkan budi pekrti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda rasulullah SAW. Tidak hanaya itu  dengan akal juga manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian allah yang sangat luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus.
Namun dalam menggunakan akal terbatas akan hal-hal bersifat tauhid, karena ketauhitan sang pencipta tak akan terukur dalam menemukan titik akhir, begitu pula dengan wahyu sang Esa, karena wahyu diberikan kepada orang-orang terpilih dan semata-mata untuk menunjukkan kebesaran Allah. Maka dalam menangani anatara wahyu dana akal harus slalu mengingat bahwa semua itu karna allah semata. Dan tidak akan terjadi jika allah tak mengijinkannya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kemusyrikan terhadap allah karena kesombongannya.
B.       Permasalahan
Dari uraian latar belakang di atas dapat diambil beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
a.       Apa Pengertian Akal?
b.      Apa Fungsi Akal?
c.       Apa Kekuatan Akal?
d.      DimanaTempat Akal?
e.       Akal untuk manusia?
f.       Apa Tanda-tanda oran berakal?
g.      Apa Kegunaan dari akal?
h.      Apa Pentingnya akal?
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Akal
Kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata benda. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh (عـقـلوه) dalam 1 ayat, ta’qiluun (تعـقـلون) 24 ayat, na’qil (نعـقـل) 1 ayat, ya’qiluha (يعـقـلها) 1 ayat dan ya’qiluun (يعـقـلون) 22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat luas.
Kata akal berasal dari kata dalam bahasa Arab, al-‘aql. Kata al-‘aql adalah mashdar dari kata ‘Aqolaya’qilu – ‘aqlan yang maknanya adalah “ fahima wa tadabbaro “ yang artinya “paham (tahu, mengerti) dan memikirkan (menimbang) “. Maka al-‘aql, sebagai mashdarnya, maknanya adalah “ kemampuan memahami dan memikirkan sesuatu “. Sesuatu itu bisa ungkapan, penjelasan, fenomena, dan lain-lain, semua yang ditangkap oleh panca indra.[2]
Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.[3]
Imam Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir berkata, "Ketika Allah menciptakan akal, Dia mengajaknya berbicara. Allah berkata, ‘Menghadaplah (kepada-Ku)!’ Maka, akalpun segera menghadap. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘ Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, tiada makhluk yang lebih Aku cintai daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang-orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala.’"
Dalam mensyarahi hadis di atas, Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at al-‘Uqul menyatakan bahwa ’aql (akal) secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Secara istilah, akal digunakan untuk menunjukkan salah satu definisi berikut ini:[4]
1.      Kemampuan untuk mengetahui sesuatu.
2.      Kemampuan memilah-milah antara kebaikan dan keburukan yang niscaya juga dapat digunakan untuk mengetahui hal-ihwal yang mengakibatkannya dan sarana-sarana yang dapat mencegah terjadinya masing-masing dari keduanya.
3.      Kemampuan dan keadaan (halah) dalam jiwa manusia yang mengajak kepada kebaikan dan keuntungan dan menjauhi kejelekan dan kerugian.
4.      Kemampuan yang bisa mengatur perkara-perkara kehidupan manusia. Jika ia sejalan dengan hukum dan dipergunakan untuk hal-hal yang dianggap baik oleh syariat, maka itu adalah akal budi. Namun, manakala ia menjadi sesuatu yang mbalelo dan menentang syariat, maka ia disebut nakra` atau syaithanah.
5.      Akal juga dapat dipakai untuk menyebut tingkat kesiapan dan potensialitas jiwa dalam menerima konsep-konsep universal. An-nafs an-nathiqah (jiwa rasional yang dipergunakan untuk menalar) yang membedakan manusia dari binatang lainnya.
6.      Dalam bahasa filsafat, akal merujuk kepada substansi azali yang tidak bersentuhan dengan alam material, baik secara esensial (dzaty) maupun aktual (fi’ly).
Definisi-definisi yang dipaparkan Allamah Majlisi di atas mengandung ketumpang-tindihan terminologis. Dengan sedikit kecermatan, kita bisa mendapatkan persamaan makna pada tiap-tiap definisi yang diberikan. Misalnya definisi kesatu, kedua, dan ketiga itu dapat dikatakan identik, meski dipandang dari perspektif yang sedikit berbeda. Definisi keempat memberikan gambaran umum tentang akal melalui bahasa syariat yang dapat dibedakan dari definisi-definisi sebelumnya hanya dari sisi detailnya. Definisi kelima berupaya mengembalikan makna akal sebagai suatu potensi pencerapan yang bersifat pasif. Definisi keenam memandang akal dari sisi penalarannya yang bersifat aktif. Dan definisi ketujuh, agak berbeda dari yang sebelumnya, memandang akal dari perspektif ontologisnya. Namun demikian, masing-masing definisi ini sama sekali tidak dapat dipertentangkan. [5]
Dalam mensyarahi hadis yang sama, Mulla Shadra dengan tegas memaknai ‘aql di sini sebagai kepribadian Nabi Muhammad Saww. - dalam seluruh martabat wujud beliau. Karena menurutnya, semua sifat yang diberikan Allah kepada akal itu identik dengan sifat-sifat Nabi Muhammad Saww. yakni:
7.      Dalam hadis ini digambarkan bahwa Allah mengajak akal "berbicara". Dan ini sama halnya dengan Allah mengajak Nabi berbicara dalam perjalanan Mikraj beliau.
8.      Hadis ini menegaskan ketaatan akal kepada Allah. Ketaatan Nabi kepada Allah itu bersifat aksiomatis.
9.      Dalam hadis di atas Allah menandaskan kecintaan-Nya yang luar biasa kepada akal. Dalil-dalil rasional dan riwa`iy (riwayat) menegaskan bahwa Nabi adalah makhluk yang paling dicintai Allah.
10.    Keimanan terhadap wujud Nabi atau kepada kenabian beliau ialah syarat mutlak kesempurnaan tauhid. Dan kesempurnaan tauhid adalah anugerah agung dan luas yang tidak Allah berikan kecuali kepada para kekasih-Nya.
11.    Dan sifat terakhir yang tercantum di dalam hadis ini adalah bahwa kepada akal-lah Allah menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala. Allah berfirman,
øŒÎ)ur xs{r& ª!$# t,»sWÏB z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# !$yJs9 Nà6çG÷s?#uä `ÏiB 5=»tGÅ2 7pyJõ3Ïmur ¢OèO öNà2uä!%y` ×Aqßu ×-Ïd|ÁB $yJÏj9 öNä3yètB £`ãYÏB÷sçGs9 ¾ÏmÎ/ ¼çm¯RãÝÁYtGs9ur 4 tA$s% óOè?ötø%r&uä ôMè?õs{r&ur 4n?tã öNä3Ï9ºsŒ ̍ô¹Î) ( (#þqä9$s% $tRötø%r& 4 tA$s% (#rßpkô­$$sù O$tRr&ur Nä3yètB z`ÏiB tûïÏÎg»¤±9$# ÇÑÊÈ
Artinya: "(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji para nabi (yaitu), sungguh apa yang Aku datangkan kepada kalian berupa kitab dab hikmah. Kemudian, datanglah kepada kalian utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian dan berkata, ‘Hendaklah kalian beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berkata, ‘Adakah kalian akui dan ambil janji-Ku itu!’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakuinya.’ Berkata Allah, ‘Bersaksilah! Sesungguhnya Aku beserta kalian akan menjadi saksi.’" (QS Ali’ Imran, 3:81).[6]
Jelas bahwa kepada Nabi Muhammad Saw. Allah memberi perintah dan larangan dan karena beliau pulalah Allah menurunkan pahala dan siksa.
Dengan ungkapan yang agak berbeda, Allamah Thabathaba`i menarik kesimpulan yang sama. Dalam magnum opus-nya, Al-Mizan, Allamah Thabathaba`i menye-butkan, dengan mengutip sebuah hadis masyhur, bahwa akal adalah sesuatu yang dengannya Allah di-sembah. Dengan kata lain, akal adalah lentera yang dengannya seseorang dapat mengenali "Wajah" Allah. Ini berarti bahwa peran yang dimainkan akal itu sama sekali tidak berbeda dengan peran yang dibawa oleh Nabi. Dan kesimpulan ini jelas tidak berbeda dengan kesimpulan Mulla Shadra yang mengatakan bahwa akal itu identik dengan Nabi Muhammad Saww.
Dari sudut yang berbeda, dapat kita katakan bahwa akal adalah manifestasi dan petunjuk internal dari keberadaan Nabi. Muhammad adalah inti wujud segenap nabi dan senjata pamungkas kerasulan. Bagaimanapun juga, manifestasi mesti mencerminkan obyek dasarnya. Dengan demikian, semua ucapan, amalan, dan penegasan Nabi Muhammad Saww. pasti bersifat rasional. Lebih jauh, Nabi Muhammad Saww. adalah kriteria rasionalitas dan irasionalitas segala sesuatu.
Dan Alquran yang merupakan tajally yang paling sempurna dari haqiqah muhammadiyyah (hakikat ke-Muhammad-an) dapat pula memainkan peran yang sama. Inilah metode penggabungan sisi intelektual, rasional, dan teoretis manusia atau masyarakat dengan sisi individual, sosial, dan praktisnya dalam pandangan-dunia Islam. Pandangan-dunia Islam menggunakan metode ini untuk membangun infrastruktur (rasio), struktur (masyarakat), dan suprastruktur (pemerintahan) sosial kemasyarakatan.
Muhaqqiq al-Lahiji menulis demikian, "Akal dan ruh, sirr dan khafy, jiwa rasional dan kalbu adalah hakikat yang sama. Namun, karena dzuhur (manifestasi) yang terjadi pada berbagai gradasi eksistensialnya, maka mereka memiliki hukum dan sifat yang berbeda-beda sesaui dengan tingkat eksistensialnya. Oleh sebab itu para ulama memberikan pada masing-masingnya nama yang berbeda-beda" .[7]

Iqbal dan Idbar
Ada banyak kemungkinan makna iqbal (kemenghadapan) dan idbar (keberpalingan). Boleh jadi, makna menghadap dan berpalingnya akal itu bersifat hakiki dan bukan majasi. Karena banyaknya manusia yang dengan akalnya menjadi taat kepada Allah (iqbal) dan ada pula yang tidak. Kemungkinan ini, tentunya bertentangan dengan teori Mulla Shadra yang kami paparkan di atas. Sebab Nabi Muhammad Saww. mustahil tidak taat kepada Allah.
Mungkin juga makna dari menghadap dan perginya akal itu bersifat takwiny (kreatif atau berkaitan dengan penciptaannya). Sehingga jika akal dalam keadaan menghadap, maka ia dapat melakukan penyempurnaan, pendekatan-diri kepada Allah, dan transendensi. Sebaliknya, kalau ia dalam keadaan berpaling, maka ia mengalami keme-rosotan dan kehancuran maknawi. Teori ini tidak sesuai dengan pendapat Mulla Shadra dan Allamah Thabathaba`i di atas. Kedua kemungkinan makna ini diajukan oleh Allamah Majlisi dalam kitabnya yang sama.
Kemungkinan lain adalah bahwa makna keduanya mengacu kepada istilah para sufi mengenai qabdh (penyem-pitan dan penggenggaman) dan basth (pelapangan dan pe-longgaran [dari ikatan atau genggaman]). Menurut Qusyairi, kedua keadaan tersebut adalah maqam-maqam yang dilalui oleh para penempuh jalan spiritual.
"Keduanya akan tampak setelah seorang hamba melewati keadaan takut dan harap. Keadaan sempit bagi para sufi atau arif itu sama dengan keadaan takut bagi murid. Keadaan lapang bagi arif itu sama dengan keadaan harap bagi seorang murid," ungkap Qusyairi.
Para sufi berpendapat bahwa kedua keadaan itu, baik bagi arif maupun murid, selalu bergonta-ganti dalam kalbu seorang mukmin yang berjalan meniti sirath al-mustaqim (jalan yang lurus).
Kamaluddin Abdurrazzaq Al-Kasyani menerangkan kedua keadaan ini sebagai berikut, "Keadaan lapang pada kalbu sama dengan keadaan harap pada jiwa manusia. Ia adalah keadaan hati yang mengisyaratkan penerimaan (qabul yang berasal dari akar-kata yang sama dengan iqbal), kelembutan (luthf), rahmat, dan keintiman hati dengan Allah (uns). Sebaliknya, keadaan sempit sepadan dengan keadaan takut pada jiwa. Keadaan lapang pada sang mahabenar adalah saat Allah melapangkan seorang hamba yang hidup secara lahir di tengah masyarakat dan menyempitkannya dan merangkulnya untuk Diri-Nya sendiri secara batin sebagai rahmat bagi hamba tersebut. Maqam ini menjadikan hamba tersebut dapat mencakupi segala sesuatu, tapi tidak dicakupi oleh sesuatu apapun (selain daripada Allah). Dia dapat mempengaruhi segala sesautu (dengan izin Allah) dan tidak dipengaruhi oleh apapun (selain daripada-Nya).[8]
Imam ‘Ali pernah berkata, "Kalbu mempunyai keadaan ingin, menghadap dan mengungkur. Maka, datangilah kalbu ketika ia dalam keadaan ingin dan menghadap. Karena, bila kalbu itu sudah tidak ingin, maka ia menjadi buta."
Seyogyanya, seorang bertanya tentang bagaimana korelasi antara akal dalam pembahasan ini dan keadaan-keadaan kalbu yang saya sebutkan. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengembalikan perhatian Anda kepada premis yang saya nukil dari seorang filosof agung di atas, Muhaqqiq Lahiji. Dalam bukunya tersebut, dia membawakan pembuktian filosofis dan demonstratif akan korelasi antara akal dan kalbu. Bahkan, lebih jauh, Lahiji mengemukakan dalil-dalil tentang kesatuan keduanya. [9]


B.       Fungsi Akal
Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:
1.      Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
2.      Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang.
3.      Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.[10]

Oleh para filosof muslim, akal (al-‘aql) biasanya dibagi menjadi dua macam, akal praktis dan akal teoretis. Namun, karena kita berbicara tentang akal sebagai sumber pengetahuan, sedangkan akal praktis berkaitan dengan tindakan (etika), di sini kita akan lebih terfokus pada akal teoritis. Kita telah mendiskusikan tidak hanya kemampuan dan kelebihan panca indera lahir, tetapi juga kekurangan-kekurangannya. Misalnya, tidak semua gelombang cahaya dapat ditangkap oleh mata kita, seperti halnya tidak semua gelombang suara berfrekuensi antara 15-20000 hertz yang dapat diterima sebagai suara oleh telinga kita. Atau dengan contoh lain, hanya separuh dari bulan yang dapat ditangkap oleh mata pada saat kita memandangnya. Untuk menyempurnakan kesan indra ini agar menjadi “pengetahuan sebagaimana adanya”, kita dapat menyempurnakan pengetahuan kita tentang bentuk bulan yang seutuhnya, dan bukan hany separuh sebagaimana yang dikesankan oleh mata kita.
Pertanyaan penting sekarang adalah bagaimana sebenarnya akal dapat menyempurnakan pencerapan indra kita dan memperbaiki kekeliruan-kekeliruan kesan yang diterimya? Manusia dibedakan dari hewan oleh kecakapan mental yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh hewan apapun, yaitu akal. Akal dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh indra-indra kita (baik lahir maupun batin), yaitu kemampuan untuk bertanya secara kritis. Akal, misalnya, dapat bertanya tentang di mana sebuah “benda” berada. Akal juga dapat bertanya tentang kapan suatu peristiwa yang kita dengar terjadi. Demikian akal juga ia mampu bertanya tentang apa yan menyebabkan peristiwa itu, oleh siapa, dan bagaimana. Memalui kemampuannya untuk menanyakan beberapa hal penting seperti tersebut di atas apa, dimana, kapan, mengapa,, bagaimana, siapa dan lain-lain. Akal telah menjadi sumber informasi yang luar biasa kayanya dengan menjawab semua pertanyaan tersebut, yang semuanya tidak bisa dipasok oleh indra. Dengan demikian, kita tidak bisa lagi meragukan lagi pentingnya akal sebagai sumber pengetahuan kita, yang tanpanya manusia akan berada dalam kegelapan. Bagaimanakah hal itu (kemampuan perangkat-perangkat, atau konstruksi-konstruksi mental, atau apa yang oleh Immanuel Kant disebut sebagai kategori-katergori, seperti kategori ruang, waktu, substansi, kausalitas, relasi, dan kuantitas.[11]
Namun kelebihan yang paling istimew dari akal terletak pada kecakpam atau kemampuannya untuk menangkap “kuiditas” atau “esensi” dari suatu yang diamati atau dipahaminya. Dengan kecakapan ini, akal manusia dapat mengetahui konsep universal atau tentang sifat dasar kmanusiaan. Ketika berbicara tentang meja, kita buka lagi berbicara tentang meja particular atau tertentu. Inilah yang disebut oleh Aristoteles dengan “bentuk’ (form/shurah). Dengan kemampuan akal menagkap esensi (mahiyyah) dari benda-benda yang diamatinya, manusia bisa menyimpa jutaan “makna” atau ‘pemahaman” tentang berbagai objek ilmu yang bersifat absrtak sehingga tidak memerlukan ruang fisik yang luas di dalam pikiran kita.
Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan  Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.
Dengan uraian diatas, cukup kiranya kita telah membicarakan kemampuan dan fungsi akal yang luar biasa penting sebagai sumber pengetahuan, yang tentu saja tidak bisa ditinggalkan oleh manusai karena tidak bisa ditangani oleh indra-indra kita, baik yang lahir maupun yang batin.[12]

C.      Kekuatan Akal
Tak seperti wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
1)        Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.
2)         Mengetahui adanya hidup akhirat.
3)         Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.
4)        Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan.
5)        Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.[13]
6)        Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu. [14]
D.      Tempat Akal
Para ulama berbeda pendapat mengenai letak akal dalam diri manusia. Ulama Hanafiyah, Hanabilah dan Mu’tazilah berpendapat akal terletak dalam otak, artinya di kepala. Dasarnya, apabila seseorang mengalami benturan keras di daerah kepala dan ia mengalami gegar otak, akalnya akan hilang. Juga kebiasaan orang arab yang mengatakan orang yang berakal itu sempurna otaknya, sedang orang yang lemah akalnya adalah orang yang lemah otaknya.
Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa akal berada dalam hati manusia. Ini juga menjadi pendapat para dokter tempo dulu, sebagian Hanabilah dan imam Abu Alid al Baji. Dalil mereka adalah firman Allah : ”Maka mereka mempunyai hati yang dengannya mereka berakal atau telinga yang dengannya mereka mendegar.”
Pendapat yang benar adalah akal itu mempunyai hubungan dengan otak dan hati. Berfikir itu berasal dari otak, sedang keinginan berasal dari hati. Orang yang berkeinginan tak mungkin mempunyai keinginan kecuali setelah memahami apa yang ia inginkan, sedangkan pemahaman berasal dari otak.”[15]
E.       Akal Untuk Manusia
Manusia itu sejenis hewan juga, tetapi tuhan memberikannya kelebihan dengan akal. Kepada akal itulah bersandar segala perkara yang wajib dia lakukan atau wajib dia tinggalkan. Adapun hewan jenis lain, yang dirasainya hanyalah semata-mata kelezatan perasaan kasar. Dikejarnya kelezatan itu dengan tidak menimbang dan memikir lebih dahulu. Sedang bagi manusia, akal itu yang menjadi penjaganya dan yang menguasainya. Meskipun suatu perkara dipandang lezat untuk badannya, belum tentu dia mau mengerjakan kalau belum mendapat persetujuan dari akalnya. Bila melihat harta orang lain yang amat bagus, akalnya melarang mengambil dan mengganggu hak orang itu. Bila dia ingin kepada seorang perempuan cantik, tetapi lantaran menurut pertimbangan akalnya, mendekati perempuan itu kalau tidak dengan jalannya akan menjatuhkan martabatnya, maka rasa lezat yang diinginkannya itu ditahannya saja. Dia tidak mau hilang hijab malu pada dirinya. Kecuali orang yang akalnya lemah dan nafsunya serta syahwatnya lebih kuat, yang telah tuli telinganya daripada mendengar seruan batin dan akalnya. Orang yang begini mudah terperosok, dan mudahlah memikul rasa malu.[16]
Dengan adanya rasa malu pada orang yang berakal, terbukti bahwasannya memperturutkan klezatan badan itu tidaklah mendatangkan keuntungan bagi manusia. Insan  yang kamil, manusia yang hendak mengikat kesempurnaan selalu memandang hina akan perkara yang memang pantas dihinakan dan selalu pula memuliakan barang yang patut dimuliakan, yang patut ditimbang, yang patut dimalui. Baginya makan untuk melengkapi hidup, bukan hendak memuaskan nafsu belaka.
Dengan akal itulah manusia dapat memikirkan besar nikmat yang diterimanya dari Tuhan, nikmat kemuliaan dan ketinggian yang tiada ternilai, sehingga dia terlepas daripada kehinaan. Dengan akal itulah jenis manusia dilebihkan daripada jenis yang lain. Akal tiap orang itu berbeda-beda pula sebagaimana berbeda badan kasarnya satu sama lain. Berlainan warna kulitnya, berlainan bentuk badannya. Lantaran akal itu berlainan pula keinginan, tujuan hidup, pertimbangan dan perasaannya, berlainan pula garis yang dilalui masing-masing. Semuanya buat mencukupkan hidup.
Tetapi lantaran bukan akal saja yang dianugrahkan Allah, bahkan di samping itu ada pula nafsu – sebab manusia termasuk jenis binatang pula, maka tidaklah kita terlepas daripada garis sebagaimana manusia – tidalah ia lepas dari kesalahan, keteledoran, kesilapan dan kegagalan. Sebab itu kita tidak boleh memaksa diri di atas dari kesanggupan manusia, atau mendakwkan barang yang sebenarnya tidak ada pada kesanggupan kita. Kita hanya menjaga langkah, mengawasi dan mnimbang.
Sebagaimana terpandang hina dan terpemcil dari masyarakat yang mninggalkan bahasa ibunya atau bahasa tanah airnya yang dengan dia lidahnya lebih sanggup menerangkan segala perasaan hatinya, lalu meminjam bahasa dan logat orang lain semata-mata untuk bermegah-megah, maka lebih terpandang hina lagi manusia yang melebihi kekuatan dan kesanggupannya, atau memilih yng sebenarnya bukan pakainnya.
Akal menyuruh manusia menjaga dirinya dan mengatur peri kehidupannya, jangan meniru orang lain sebelum dipikirkan apakah yang ditiru itu cocok dengan dirinya. Yang lebih utama menurut akal ialah mengukur bayang-bayang diri mengenal siapa diri, dan berusaha memperbaiki mana yang telah rusak. Seorang bintang film, seorang pemain sandiwara, berkali-kali mengadakan latihan untuk menyesuaikan dirinya dengan lakon yang akan dijalankannya; maka kita seluruh manusia ini lebih berhak melatih diri kita supaya menjalankan lakon yang akan kita jalani pula di dalam lakon hidup dan sandiwara kehidupan ini.[17]
Ekonomi ada orangnya, perniagaan ada orangnya, ulama ada orangnya, kesenian ada orangnya, pedang panjang dilapangan perang ada pahlawannya, pedang kecil dilapangan kertas yang bernama pena ada pula panglimanya. Semuanya ukanlah perkara mudah. Semuanya harus menempuh perjuangan dan percobaan. Siapa awas teruslah maju dan menang, tetapi ada pula yang jatuh lalu tegak dan jatuh lagi, tetapi tegak pula kembali. Kejatuhan pertama dijadikannya pelajaran untuk menempuh kesulitan yang kedua. Adapula yang jatuh tapi tak bangun lagi selama-lamanya. Perjuangan demikian tidak ada pada binatang, hanyalah pada manusia, dan itulah kekuatan yang mereka rasai.
 Selain ihwal manusia yang umum atau yang khusus itu, ada lagi hal yang ketiga, nasib yang laksana jalan terentang yang akan dilalui dan cara mereka melaluinya. Maka mahkota dan mahligai, pangkat dan kehormatan, kekayaan atau kemiskinan, dan yang lain sebagainya, hanyalah barang injaman yang tak kekal adanya. Berganti-ganti datangnya sebagaimana pergantian hari, tidak ada yang dapat menangkap kakinya. Tetapi yang tak akan terpisah dari pada manusia, yang ditanggung tidak akan meninggalkan manusia atau ditinggalkan, ialah sifat batin dan kekayaan batin. Walaupun uang pergi dan datang, pangkat naik atau jatuh, namun kekayaan jiwa itu tidaklah akan meninggalkan diri. Umpamanya ialah ilmu, hikmah, budi, bahasa, bahasa, insaf dan sadar.
Ranting mewarisi dahan, dahan mempusakai pohon, akan tetapi ada pula buah yang terbit dari jambu cangkokan lebih sedap dari buah jambu asalnya. Dengan lain jalan, pernah juga jalan yang dilalui anak tidak sama dengan jalan yang dilalui si ayah dahulunya. Semuanya itu terjadi karena perbedaan ksanggupan, tegasnya perbedaan akal. Sebaliknya lagi, bila kelihatan berkumpul orang jahat yang durjana, maka mata orang akan dapat juga memperbedakan mana penjahat yang asal usulnya jahat dan ada penjahat yang ada juga mempunyai asal usul bai. Semuanya ini harus kita perhatia untuk memperbedakan kekuatan akal manusia.
Maka sebelum kita maju dalam menentukan tujuan hidup, hendaklah kita pandai memilih mana yang cocok buat diri, jangan mana yang disukai saja. Anak muda kerap kali tidak insyaf akan hal ini, karena darahnya masih muda dan panas. Ada anak muda melihat orang lain senang makan gaji, dia hendak makan gaji pula, padahal yang lebih cocok dengan dia bukan makan gaji, tetapi berniaga. Ada pula yang melihat orang yang menjadi wartawan atau pengarang, dia hendak mnjadi wartawan atau pengarang pula, padahal yang lebih sesuai dengan dirinya jika ia jadi petani. Ada pula pemuda yang hendak dibentuk oleh ayahnya menurut maunya saja, mau menurut kelayakan yang cocok dengan anak itu, ada pula karena pengaruh orang lain hilang timbangannya.[18]
Tetapi ada lagi golongan ketiga yang mempelajari pkerjaan sebelum ditempuhnya, menimbang sebelum berjalan dengan kemerdekaan pendapat dan akal, memakai pakaian yang sesuai dengan tubuhnya. Inilah yang paling benar, tetapi ini pula yang sulit.


F.       Tanda Orang Berakal
Orang yang berakal, luas pandangannya ke[ada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang member manfaaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia memilih mana yang lebih kekal alaupun sulit jalannya dari pada yang mudah didapat padahal rapuh. Sebab itu merka utamakan kegembiraan kesopanan daripada kegembiraan hawa nafsu. Mereka menimbang biarlah susah menempuh suatu perkara yang sulit asal akibatnya baik, daripada perkara yang mudah tetapi akibatnya buruk. Mereka tetap mengharap dan tetap takut. Tetapi tidaklah kekuatannya itu pada perkara yang bukan-bukan, tidak pula harapannya itu kepada hal yang tidak-tidak. Pandangannya luas, ditimbangnya sebelum dikerjakannya. Sebab mengharap keutamaan dengan tidak mempergunakan pemandangan adalah pekerjaan sia-sia.
Orang berakal selalu menaksir harga dirinya. Menaksir harga diri ialah dengan menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal kemanakah pula digunakan. Karena mahal atau murah harga diri, baik waktu hidup, apalagi setelah mati. Dia sadar bahw hari yang telah habis terbelanjakan untuk yang tidak perlu, tidaklah akan dapat ditebus lagi. Oleh sebab itu dilihatya tahun berganti, bulan bersilih dan hari berlalu. Dihitungnya baik-baik kemanakah dia telah pergi, apakah bekas kerjanya buat kemaslahatan dirinya sekurang-kurangnya, atau kemaslahatan kepada masyarakatnya.[19]
Yang kedua, orang berakal itu selalu berbantah dengan dirinya. Kalau diri itu bermaksud menempuh yang jahat, dihukumnya bahwa kejahatan itu berbahaya, merugikan dan mencelakakan. Dan kalau diri itu ada mengingat-ingat yang baik, dihukumkan bahwa kebaikan itu menguntungkan, membawa membawa kemenangan dan memberi laba. Lantaran hukuman yang demikian, mudahlah diri mengingat yang baik-baik itu dan buah hasilnya, sehingga mudah menunjukkannya ke sana. Dan bila akan menghadapi kejahatan itu mudah pula dia ingat bahayanya dan celakanya, gemetar badannya, dan timbul takutnya akan melampaui batas itu.
Orang yang berakal selalu mengingat kekurangannya, kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan peringan di ulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diikhtiarkan mengangsur-angsur merubah segala kekurangan itu. Baik dalam berhari atau berbulan, atau bermusim sekalipun. Kalau perlu bia telah dapat satu macam sifat kekurangan itu diubahi., didorongnya dari notes peringatan tadi dengan tinta merah. Setelah dicoreng, digembirakannya hatinya, sebab telah menang di dalam suatu perjuangan yang amat hebat. Dan pandangannya pula dengan hati hiba dan sedih segala sisa-sisa yang masih ketinggalan. Dan dia tidak berhenti berusaha.
Dilihatnya kebaikan budi pekerti orang lain. Dipujinya di dalam hati dan ditimbulkannya cita-cita hendak meniru, seraya diangsurnya pula meneladan dari selangkah ke selangkah.
Kalau hendak mencari teman, handai tolan dan sahabat, orang yang berakal memilih orang yang mempunyai kelebihan baik dalam perkara agama atau ilmu atau budi kesopanan. Yang terlebih dari kita supaya dapat kita tiru teladan. Atau dicarinya teman yang sama tingkatan supaya kuat menguatkan. Karena budi pekerti yang baik dan adat yang terpuji tidaklah subur tumbuhnya di dalam diri kalau tidak bertolong-tolongan menggembirakan dengan teman. Tidak ada karib atau kerabat yang lebih setia daripada seorang teman yang menyokong dan membantu membesarkan hati dan memberanikan kita di dalam menempuh suatu perbuatan baik. Hati kita yang tadinya kurang kuat menjadi kuat dan bertambah kuat karena digosok kawan. Budiman mengeluarkan pepatah bahwasanya berkawan dengan orang yang tidak berilmu, tetapi hidup dalam kalangan orang-orang yang berilmu, lebih baik dari pada berkawan dengan oaring yang berilmu tetapi hidup dalam kalangan orang yang bodoh-bodoh.[20]
Orang yang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Diterimnya apa yang terjadi atas dirinya dengan baik merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha. Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan himmah dan bangga menghilangkan timbangan.
Orang yang berakal nggan menjauhi orang yang berkala pula. Karena tanpa teman yang berakal, akan lemahlah dia, dan dengan bersama akan dapat dia membandingakan di mana kekurangannya dan di mana kelebihannya.
Empat saat yang selalu diawasi oleh orang yang berakal. Biar lengah dari yang lain, tetapi tidak lalai dia menjaga yang empat saat itu.
1.      Saat itu menyembahkan hajatnya kepada Tuhannya.
2.      Saat untuk meniik dirinya sendiri.
3.      Saat untuk membukakan rahasia diri kepada sahabatnya yang setia, menyatakan aib-aib dan celanya supaya dapat dinasehati dan ditunjukkan oleh teman setia itu secra terus terang.
4.      Saat dia bersunyi-sunyi diri, duduk bersoal jawab dengan dirinya, menanyakan mana yang hala dan mana yang indah, mana yang jahat dan mana yang baik.
Maka saat yang keempat ini adalah saat yang paling penting di antara keempat saat itu. Karena jiwa, dan hati mesti satu saat wajib diistirahatkan.[21]
Orang yang berakal hanyalah merindui tiga perkara:
Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian
Kedua, Mencari kelezatan buat jiwa
Ketiga, Menyelidiki arti hidup.

Orang yang berakal tahu membedakan manusia, sebab itu dia tidak canggung bergaul dengan siapapun. Manusia dibaginya dua. Pertama orang awam (orang kebanyakan). Perkataannya di sana dijaganya, tiap-tiap kalimat yang ke luar dari mulutnya dibatasinya.
Kedua ialah orang khawas (orang-oang utama).  Di sanalah dia merasa lezatnya ilmu. Kepada yang lebih dari dia, dia belajar. Kepada yang saa dengan dia, dia membanding. Tempo tidak ada yang terbuang.
Dalam 1.000 manusia, 999 termasuk kedalam golongan pertama. Hanya seorang yang termasuk di golongan yang kedua. Dari yang seorang di dalam 1000 itulah dapat dicari pendapat yang jitu, persahabatan yang setia, nasehat yang jujur, keteguhan dan persaudaraan. Itulah rahasia kata hikmat: “kawan tertawa amat banyak, kawan menangis sedikit sekali”.
Orang yang berakal memandang besar segala kesalahan itu. Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandanga kecil suatu kesalahan. Karena bila sekali kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar. “sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain”. Tak ubahnya membiarkan kesalahan diri yang kecil itu dengan hikayat seorang nahkoda kapal yang membiarkan sehelai papan yang dimakan rayap termasuk di dalam dinding kapal. Padahal dari  sebab tercampur papan yang sehelai itu di dalam papan yang lain, itulah yang kelak menyebabkan kapal karam. [22]
Memang dari perkara-perkara yan gkecil itu jualah biasanya timbul bahaya yang besar. Orang yang mati dibunuh nyamuk tiap-tiap tahun lebih banyak daripada orang yang mati dibunh singa. Penyakit yang berbahaya ialah dari pada baksil yang kecil-kecil. Banjir besar dating dari kumpulan setitik-setitik air hujan.
Orang yang berakal sadar bahwa diantara akal dan nafsu, atau di antara pikiran dan hawa tidak ad persetujuan. Kehendak nafsu biasa manis pangkal dn hambar ujungnya, dan kehendak akal pahit pangkal tetapi manis ujungnya. Sebab itu mereka lebih suka berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian!
Jika dia menghadapi suatu pekerjaan ragu-ragu atau jalan bersimpang yang belum dapat ditentukan, ditanyailah hatinya, mana yang lebih cocok. Dan nafsunya itulah yang dijauhinya. (perbedaan hawa dan akal kita terangkan lebih luas kelak!).
Setengah dari tanda-tanda orang yang berakal, bukanlah lantaran sucinya daripada dosa. Bagaimana akan suci bersih gelanggang pertempuran haw nafsu dengan akal? Yang terdapat di sana ialah perjuangan! Dan tidak ditempuhnya suatu kesalahan dngan sengaja, atau diulangnya suatu kesalahan dua kali. Dia cukupkan apa yang ada, tidak mengharap kekayaan yang lain. Tidak dia suka bercakap dengan orang yang ditakuti tidak mengabulkan permintaanya. Tidak dia suka berjanji dengan orng yang pemungkir. Tiada dia menharap dari orang yang tidak dapat diharap!
Prang yang berakal tidaklah berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal. Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan banyak sedih mengurangi  akal. Orang yang berakal menyediakan obat sebelum sakit, menyediakan paying sebelum hujan. Tetapi kalau penyakit dating juga, padahal obat telah sedia, dan bajunya kena hujan juga, padahal paying telah di tangan, tidaklah dia kecewa tetapi dia sadar dan rela dan dicarinya usaha untuk mengatasi. Orang yang berakal tidak ada tempat dai takut selain Tuhannya. Kalau timbul takutnya dengan tiba-tiba, diselidikinya apa sebab dia takut. Dari salah, atau hanya dari rendah himmahnya?[23]
Orang berakal tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya, karena orang yang lupa memandang aib dirinya sendiri, akan lupalah kepada kebaikan orang lain. Maka lupa akan aib diri itu adalah bencana hidup yang sebesar-besarnya. Sebab kalau tidak tahu atau lengah dari aib kita sendiri, tidaklah timbul usaha untuk membongkar uratnyaa. Bertambah lama dia bertambah tumuh di dalam jiwa, maka meranalah jiwa; laksana liamu yang dikalahkan benalu.
Orang yang berakal pergi ke medan prang dengan senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi teranglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dengan ilmu ditaklukan dunia.
Orang yang berakal pandai membandingkan yang belum ada dengan yang telah ada, yang belum didengar dengan tang didengar. Umurnya yang tinggal dibandingkannya dengan yang telah pergi. Yang belum trcapai dengan yang telah tercapai. Segala pekerjaan tidaklah diukurnya dengan uang atau emas bertahil. Sebab harta datang dan pergi, mendahului kita, atau didahului. Tetapi akal tetap dan bekasnya kekal, walaupun badan tubuh masuk ke liang lahat.[24]
Orang yang berakal hidup buat masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri.

G.      Kegunaan Akal
Akallah alat untuk berpikir, dialah hulu hikmat. Lantaran akal datangnya taklif perintah agama. Di dalam agama barulah sah perintah dipikulkan bila seorang telah mempunyai akal. Tidaklah terpikul agama oleh orang yang gila atau anak-anak yang belum berakal. Untuk mencapai bahagia dunia dan agama, ialah dengan melalui jembatan akal. Dengan akal meningkatkan tangga mengenal Tuhan dan dengan akal di atur rahasia pendirian alam. DiberikanNya kepada hambaNya seorang satu. Kalau mereka pandai menggunakan, bergunalah mereka di waktu hidup sampaikan mati. Dengan akal membongkar rahasia yang ersembunyi. Dengan akal terbuka hijab yang tertutup
Kata Rawi: “pernahlah Jibril datang kepada Nabi Adam, lalu disuruh pilij di antara tiga perkara! Lalu Adam bertanya: “ Manakah yang tiga perkara itu?”
Jibril menjawab :”Pertama akal, kedua malu, ketiga agama”. Lalu Nabi Adam memilih akal. Maka berkatalah Jibril kepada malu dan agama: “Pulanglah engkau keduannya, karena telah dipilihnya akal”. Keduanya menjawab: “Disuruh pulang atau tidak, kalau akal telah dipilihnya, tidaklah dapat kami kedua meninggalkannya, sebab kami berdua ini adalah pengiring akal”.
Maka pada diri manusia itu terdapat  3 kekuatan, kekuatan akal, kekuatan marah dan kekuatan syahwat.
1.      Kekuatan akal mi pada yang batil, tunduk kepada hukum membawa orang kepada hakekat, menjauhkan dari pada yang batil, tunduk kepada hokum, menerima perintah dan menjahi larangan. Tampak olehnya yang baik lalu diikutinya, kelihatan olehnya yang buruk, lalu dijauhinya.
2.      Kekuatan marah, itulah yang menyuruh menangkis dan bertahan, mengajak mencapai kekuasaan dan kemenangan, dan kadang-kadang menyuruh bangga, sombong dan takabur.
3.      Kekuatan syahwat, yang mengajak melepaskan kehendak hati, mencapai kelezatan, menyuruh lali, menyuruh lengah, sehingga lupa memikirkan akibat.
H.      Pentingnya Akal.[25]
1.      Akal menurut pendapat Muhammad Abduh adalah sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.
2.      Akal adalah tonggak kehidupan manusia yang mendasar terhadap kelanjutan wujudnya, peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar dan sumber kehidupan dan kebahagiaan bangsa-bangsa.
3.      Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·           Kata akal berasal dari kata dalam bahasa Arab, al-‘aql. Kata al-‘aql adalah mashdar dari kata ‘Aqolaya’qilu – ‘aqlan yang maknanya adalah “ fahima wa tadabbaro “ yang artinya “paham (tahu, mengerti) dan memikirkan (menimbang) “. Maka al-‘aql, sebagai mashdarnya, maknanya adalah “ kemampuan memahami dan memikirkan sesuatu “. Sesuatu itu bisa ungkapan, penjelasan, fenomena, dan lain-lain, semua yang ditangkap oleh panca indra.
·         Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:
ü  Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
ü  Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang.
ü  Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
·         Tak seperti wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
1)        Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.
2)         Mengetahui adanya hidup akhirat.
3)         Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.
4)        Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan.
5)        Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
6)        Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.
·           Pendapat yang benar adalah akal itu mempunyai hubungan dengan otak dan hati. Berfikir itu berasal dari otak, sedang keinginan berasal dari hati. Orang yang berkeinginan tak mungkin mempunyai keinginan kecuali setelah memahami apa yang ia inginkan, sedangkan pemahaman berasal dari otak.”
·           Manusia itu sejenis hewan juga, tetapi tuhan memberikannya kelebihan dengan akal. Kepada akal itulah bersandar segala perkara yang wajib dia lakukan atau wajib dia tinggalkan. Adapun hewan jenis lain, yang dirasainya hanyalah semata-mata kelezatan perasaan kasar.
·           Tanda Orang Berakal
1.        Orang yang berakal, luas pandangannya
2.        Orang berakal selalu menaksir harga dirinya.
3.        orang berakal itu selalu berbantah dengan dirinya.
4.        Orang yang berakal selalu mengingat
5.        Orang yang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai
6.        Orang yang berakal nggan menjauhi orang yang berkala pula
7.        Orang yang berakal tahu membedakan manusia,
8.        Orang yang berakal memandang besar segala kesalahan itu.
9.        Orang yang berakal sadar bahwa diantara akal dan nafsu tidak ada persetujuan.
10.    Orang yang berakal tidaklah berduka hati. Orang berakal tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya.
11.    Orang yang berakal pergi ke medan prang dengan senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi teranglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dengan ilmu ditaklukan dunia.
12.    Orang yang berakal pandai membandingkan yang belum ada dengan yang telah ada, yang belum didengar dengan tang didengar. Umurnya yang tinggal dibandingkannya dengan yang telah pergi. Yang belum trcapai dengan yang telah tercapai. Segala pekerjaan tidaklah diukurnya dengan uang atau emas bertahil. Sebab harta datang dan pergi, mendahului kita, atau didahului. Tetapi akal tetap dan bekasnya kekal, walaupun badan tubuh masuk ke liang lahat.
13.    Orang yang beakal hidup buat masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri.
·           Akallah alat untuk berpikir, dialah hulu hikmat. Lantaran akal datangnya taklif perintah agama. Di dalam agama barulah sah perintah dipikulkan bila seorang telah mempunyai akal. Tidaklah terpikul agama oleh orang yang gila atau anak-anak yang belum berakal. Untuk mencapai bahagia dunia dan agama, ialah dengan melalui jembatan akal. Dengan akal meningkatkan tangga mengenal Tuhan dan dengan akal di atur rahasia pendirian alam. DiberikanNya kepada hambaNya seorang satu. Kalau mereka pandai menggunakan, bergunalah mereka di waktu hidup sampaikan mati. Dengan akal membongkar rahasia yang ersembunyi. Dengan akal terbuka hijab yang tertutup
·           Pentingnya Akal
1.        Akal menurut pendapat Muhammad Abduh adalah sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.
2.        Akal adalah tonggak kehidupan manusia yang mendasar terhadap kelanjutan wujudnya, peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar dan sumber kehidupan dan kebahagiaan bangsa-bangsa.
3.        Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.



DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2001
Hamka, Falsafah Hidup, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994
Kartanegara, Mulyadhi, Menyimak Tirai Kejadilan Pengantar Epistemology Islam, (Bandung: Mizan 2003), h.24
Nasution,Harun  , Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Jakata: Universitas Indonesia (UI-Press), 1987





[6] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2001), h. 47
[12] Mulyadhi Kartanegara, Menyimak Tirai Kejadilan Pengantar Epistemology Islam, (Bandung: Mizan 2003), h.24
[14] Harun  Nasution, , Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, (Jakata: Universitas Indonesia (UI-Press), 1987),  h. 44
[16] Hamka, Falsafah Hidup, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994), h.24
[17] Hamka, Falsafah Hidup, h. 24-25
[18] Hamka, Falsafah Hidup, h. 25-26
[19] Hamka, Falsafah Hidup, h.43
[20] Hamka, Falsafah Hidup, h. 44
[21] Hamka, Falsafah Hidup, h. 45
[22] Hamka, Falsafah Hidup, h. 45-46
[23] Hamka, Falsafah Hidup, h. 46-47
[24] Hamka, Falsafah Hidup, h. 47
[25] Nasution, Harun, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, h. 14


EmoticonEmoticon