Rabu, 07 Januari 2015

MAKALAH pengaruh media pembelajaran terhadap peningkatakan motivasi belajar bahasa Arab siswa

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bahasa Arab  merupakan salah satu bahasa Mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia,  Bahasa ini di gunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara dan ia merupakan bahasa kitab suci Al-Qur'an dan tuntunan agama umat Islam sedunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang paling besar signifikasinya bagi ratusan juta muslim sedunia baik yang berkebangsaan Arab maupun bukan.[1]
Ali Al Najjar  dalam Syahin  mengungkapkan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang terluas dan terkaya kandungannya, deskripsi dan pemaparannya sangat mendetail dan dalam statementnya sebagai berikut: 

اللغة العربية من أوسع اللغات و أغناها و أدقاها تصويرا
Artinya : Bahasa Arab adalah Bahasa yang terluas kandungannya deskripsi dan  pandangannya sangat mendetail[2]
Sementara Abdul Hamid bin Yahya dalam Al Hasyimi berkata aku mendengar Syu,bah berkata “pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu akan menambah (ketajaman) daya nalar” atau dalam bahasa aslinya dikatakan: 
                                                             تعلموا العربية فا نها تزيد فى العقل
 Artinya: ''pelajarilah bahasa Arab karena dapat menambah daya nalar''.[3]
Kedudukan istimewa yang dimiliki bahasa Arab diantara bahasa-bahasa lain di dunia karena ia berfungsi sebagai bahasa Al-Qur’an dan Al-hadits serta kitab-kitab lainnya.
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& $ºRºuäöè% $wŠÎ/ttã öNä3¯=yè©9 šcqè=É)÷ès? ÇËÈ
Artinya : Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.[4]
Itulah sebabnya, maka di dalam kitab Faid Al-Qodir Syarh Al-Jami’ As-Shogir susunan Al-Mannawi  disebutkan bahwa dari Ibnu Abbas dengan riwayat Muslim Rasulullah Saw bersabda :
 أحب العرب لثلاث لاننى عربى والقران عربي  و كلام اهل الجنة عربي
Artinya :  saya mencintai Arab karena tiga hal yaitu karena aku orang Arab, dan Al-Qur’an berbahasa Arab dan bahasa Penghuni Syurga adalah bahasa Arab[5]
 Itulah sebabnya Abdul Alim Ibrahim  berkata bahwa :
Bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab dan sekaligus juga merupakan  bahasa agama Islam sebagaimana dalam ungkapan sebagai berikut,

اللغة العربية لغة العربية و الاسلا م
artrinya:  bahasa Arab itu adalah bahasa orang Arab sekaligus umat Islam.[6]
Hal ini ternukil dalam bahasa Arab dan metode pengajarannya, karangan Azhar Arsyad. Karena kedudukan bahasa Arab dalam kaitannya dengan kitab suci Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw serta keistimewaan tersebut maka tidaklah berlebihan kalau umat Islam khususnya dituntut untuk mempelajarinya sebagai bentuk penghargaan sosial terhadap bahasa Arab bahkan sepatutnya lebih dari penghargaan yang diberikan kepada bahasa internasional lainnya. Kalau perkembangan pengajaran bahasa Inggris sangat berkembang baik dari aspek metode, media, serta motivasi belajar sangat tinggi, maka perkembangan pengajaran bahasa Arab harus juga dikembangkan  dan ditingkatkan baik dari aspek media, metode serta motivasi belajarnya.
Azhar Arsyad mengatakan : Kalau di Jakarta Ada surat kabar berbahasa Inggris mestinya surat kabar berbahasa Arab yang diterbitkan oleh orang Indonesia layak terwujud. [7]  
Dalam skenario pembelajaran bahasa  Arab, keberadaan media, dan motivasi belajar adalah  sangat penting dikarenakan media adalah  sebagai alat dan sumber pembelajaran dalam proses pembelajaran. Sedangkan motivasi belajar, adalah merupakan aspek penilaian Afektif dalam skenario pembelajaran. [8]
Pemanfaatan media atau alat bantu dalam kaitannya dengan peningkatan motivasi belajar adalah kebutuhan, dan sangat penting dalam proses belajar mengajar sebagaimana yang dikatakan Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan  keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa [9]  
Berbagai manfaat media pembelajaran telah dibahas oleh banyak ahli menurut Kemp dan Daiton meskipun telah lama disadari bahwa banyak keuntungan penggunaan media pembelajaran, penerimaannya serta pengintegrasiannya kedalam program-program pengajaran berjalan lambat. [10]
Arif, S mengatakan  alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual yaitu gambar, model, obyek, dan alat-alat lain  yang dapat memberikan pengalaman kongkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap  dan retensi belajar siswa. [11]  Sehingga itu maka setiap pendidik / guru sangat dituntut untuk  mengintensifkan pemanfaatan media pengajaran ini agar mutu  dan prestasi yang dicapai oleh peserta didik akan selalu meningkat.
Hingga saat ini pemanfaatan media dalam pengajaran bahasa Arab di beberapa sekoah telah menjadi alat bantu guru dan peserta didik/siswa untuk memudahkan menerapkan materi, dan hal ini mempengaruhi motivasi belajar bahasa Arab bagi peserta didik/siswa.
Namun demikian hal ini harus terus  ditingkatkan karena  perkembangan teknologi modern  akan terus menciptakan berbagai macam jenis media pengajaran sehingga pada gilirannya nanti media pembelajaran tersebut berfungsi sebagai partner dari materi pengajaran. Dengan demikian  keberadaan media tersebut  menuntut pemanfaatan yang optimal dan efisien walaupun kita maklumi bahwa tidak semua guru  atau pendidik akan mampu menguasai  dan memanfaatkan  berbagai jenis media setiap akan melaksanakan  proses belajar mengajar.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dikemukakan beberapa pokok permasalahan yang berkenaan  dengan pemanfaatan media pembelajaran bahasa Arab  dalam upaya meningkatkan  motivasi belajar bahasa Arab sebagai berikut :
1.      Apa pengertian media pembelajaran ?
2.      Apa tujuan dan manfaat media pembelajaran ?
3.      Bagaimana upaya meningkatkan motivasi belajar bahasa Arab siswa  ?
4.        Bagaimana pengaruh media pembelajaran terhadap peningkatakan motivasi belajar bahasa Arab siswa ?















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Media Pembelajaran
Media merupakan suatu bagian yang integral dari suatu proses pendidikan di sekolah.[12] Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah perantara وسا ئل  artinya: sarana atau pengantar pesan dari pengirim pada penerima pesan. Gerlach dan Ely  mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang memuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku, teks dan lingkungan sekolah merupakan media secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photograpis, atau elektroniks, untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Batasan lain telah dikemukakan pula oleh para ahli yang sebagian diantaranya akan diberikan berikut ini : AECT (Asosiation of Education and Comunication Technologi 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan informasi.
Ringkasnya media adalah alat yang menyampaikan atau menghantarkan pesan-pesan pembelajaran.[13] Media adalah penghantar dan penjelas informasi dan merupakan faktor yang sangat penting dalam pembelajaran. Untuk pengadaan dalam proses belajar mengajar cukup menggunakan sarana yang ringan dan mudah diperoleh apabila hal tersebut dianggap efektif dalam menyampaikan pesan pembelajaran.
Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Apa pun batasan yang diberikan, ada persamaan diantara batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.[14] Schramm, mengatakan media adalah teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional. Y. Miarso, mengatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemajuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar  pada diri siswanya.[15]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikann yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efesensiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian yang lebih luas media pembelajaran adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. [16]

B.     Tujuan dan Manfaat Media Pembelajaran
1.      Tujuan Media Pembelajaran
Tujuan media pembelajaran sebagai alat bantú pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a.       Mempermudah proses pembelajaran di kelas,
b.      Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran,
c.       Menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan
d.      Membantu konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran
2.      Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantú dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
a.       Pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar,
b.      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat di pahami pembelajar, serta memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran dengan baik,
c.       Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, siswa tidak bosan, dan guru tidak kehabisan tenaga,
d.      Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya medengarkan penjelasan dari guru saja, tetapi juga aktivitas lain yang  dilakukan seperti : mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.[17]
Selain itu manfaat media pembelajaran bagi guru dan siswa, sebagai berikut:
1.      Manfaat media pembelajaran bagi guru, yaitu:
a)      Memberikan pedoman, arah untuk mencapai tujuan,
b)      Menjelaskan struktur dan urutan pengajaran secara baik,
c)      Memberikan kerangka sistematis mengajar secara baik,
d)     Memudahkan kendali guru terhadap materi pelajaran (khususnya bahasa Arab),
e)      Membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian materi pelajaran (khususnya bahasa Arab),
f)       Membangkitkan rasa percaya diri seorang guru, dan
g)      Meningkatkan kualitas pengajaran.

2.      Manfaat media pembelajaran bagi siswa, yaitu:
a)      Meningkatkan motivasi belajar siswa,
b)      Memberikan dan meningkatkan variasi belajar siswa,
c)      Memberikan struktur materi pelajaran dan memudahkan siswa untuk belajar,
d)     Memberikan inti informasi, pokok-pokok, secara sistematik sehingga memudahkan siswa untuk belajar,
e)      Merangsang siswa untuk berpikir dan beranalisis,
f)       Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan, dan
g)      Siswa dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan guru lewat media pembelajaran.[18]
Secara umum kegunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran, sebagai berikut:
a)      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan).
b)      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, seperti:
1)      Obyek yang terlalu besar, dapat digantikan dengan realita, gambar, film, film bingkai, atau model,
2)      Obyek yang kecil – dibantu  dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar,
3)      Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed photography,
4)      Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu, dapat ditampilkanlagi lewat rekaman film, video, VCD, film bingkai, foto, maupun secara verbal,
5)      Obyek yang terlalu kompleks (mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain, dan
6)      Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain.
c)      Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Maka, posisi media pembelajaran berguna untuk:
1)      Menimbulkan kegairahan belajar,
2)      Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan, dan
3)      Memungkinkan siswa dapat belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
d)     Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, seddangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran, yaitu dengan kemampuannya dalam:
1)      Memberikan perangsang yang sama,
2)      Mempersamakan pengalaman,
3)      Menimbulkan persepsi yang sama.[19]
Dengan demikian, guru harus banyak latihan membuat serta menggunakan media pembelajaran apabila ingin menjadi guru yang profesional. Selain itu, guru tidak boleh gagap teknologi terhadap alat-alat teknologi modern yang digunakan dalam pembelajaran.

C.     Pertimbangan Pemilihan Media
Setelah mengetahui tujuan dan manfaat media pembelajaran, langkah selanjutnya adalah menentukan pilihan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pertimbangan yang akan digunakan dalam pembelajaran menjadi pertimbangan utama, karena media yang dipilih harus sesuai dengan:

1)      Tujuan pengajaran,
2)      Bahan pelajaran,
3)      Metode mengajar,
4)      Tersedia alat yang dibutuhkan,
5)      Pribadi pengajar,
6)      Minat dan kemampuan siswa, dan
7)      Situasi pengajaran yang sedang berlangsung.[20]

Keterkaitan antara media pembelajaran dengan tujuan, materi, metode, dan kondisi siswa, harus menjadi perhatian dan pertimbangan pengajar untuk memilih dan menggunakan media dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga media yang digunakan lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebab media pembelajaran tidak dapat berdiri sendiri, tetapi  terkait dan memiliki hubungan secara timbale balik dengan empat aspek tersebut. Dengan demikian, ala-alat, sarana, atau media pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan empat aspek tersebut, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

D.    Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran berfungsi untuk merangsang pembelajaran dengan :
1.      Menghadirkan objek sebenarnya dan objek yang langkah,
2.      Membuat duplikasi dari objek yang sebenarnya,
3.      Membuat konsep abstrak ke konsep konkret,
4.      Memberi kesamaan persepsi,
5.      Mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah, dan jarak,
6.      Menyajikan ulang informasi secara konsisten, dan
7.      Memberi suasana belajar yang tidak tertekan, santai, dan menarik, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.[21]
Didalam bahasa Arab media pengajaran kurang lebih adalah  وسا ئل ايضاح atau menurut istilah DR. Abdul Alim Ibrahim dalam bukunya almuwajjih alfanniy limudarrisi al-lughah Al-Arabiyyah sebagai   : الوسائل توضية artinya: sarana penjelasan. Ada juga beberapa kalangan menyebutnya : المعينا ت السمعية والبصرية (alat pandang dengar). Penggunaan media dalam pengajaran bahasa bertitik tolak  dari teori yang mengatakan bahwa totalitas persentase banyaknya ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki oleh seseorang terbanyak dan tertinggi melalui indera lihat dan pengalaman langsung melakukan sendiri, sedangkan selebihnya melalui indera dengar dan indera lainnya (Baca Soenjoyo Dirjo Soemarto, 1980 : 10-11). Mujiono dkk  menambahkan bahwa media pengajaran dapat membangkitkan motivasi belajar serta memberikan stimulus bagi kemauan belajar.[22] Hal ini seiring dengan uraian apa yang dikemukakan Prof. Mahmud Yunus dalam bukunya At-Tarbiyah Wat-Ta’lim mengungkapkan  sebagai berikut :
Maksudnya, bahwasanya media pembelajaran itu  paling besar pengaruhnya bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman …… orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya.[23]
Selanjutnya DR. Abdul Alim Ibrahim dalam buku bahasa Arab dan metode pengajarannya karya Prof Azhar Arsyad menjelaskan media pembelajaran  sangat penting karena :
Maksudnya : Media pembelajaran dapat membangkitkan rasa senang dan gembira bagi siswa/ peserta didik dan memperbaharui semangat mereka, rasa suka hati mereka untuk ke  sekolah akan timbul, dapat memantapkan pengetahuan pada benak siswa, menghidupkan pelajaran karena pemakaian media pembelajaran membutuhkan gerak dan karya.[24]
Selain fungsi di atas, Livie dan Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran yang khusunya pada media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Masing-masing fungsi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Fungsi atensi berarti media visual merupakan inti, menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi  pelajaran
2.      Fungsi afektif maksudnya, media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar membaca teks bergambar. Gambar atau lambang visual akan dapat menggugah emosi dan sikap siswa.
3.      Fungsi kognitif bermakna media visual mengungkapkan bahwa lambang visual memmperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mendengar informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4.      Fungsi kompensantoris artinya media visual memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatkannya kembali.[25]
Dari empat fungsi media visual, dapat dikatakan bahwa belajar dari pesan visual memerlukan keterampilan tersendiri, karena melihat pesan visual tidak dengan sendirinya akan mudah memahami atau mampu belajar. Siswa harus dibimbing dalam menerima dan menyimak pesan visual secara tepat.[26] Misalnya kita meminta siswa untuk menerjemahkan suatu gambar visual dalam bentuk  draft, tentu saja guru akan mendapatkan jawaban yang berbeda dari masing-masing siswa. Katakan saja, seorang siswa yang terbiasa dengan gambar sketsa, maka secara kognitif dan afektif akan menerjemahkan gambar tersebut dengan baik. Tetapi bagi siswa yang belum terbiasa atau kurang memiliki pengetahuan tentang gambar sketsa, akan menerjemahkan dengan menggunakan perkiraannya saja.
Teknik efektif untuk memahami pesan visual adalah menuntut penerima pesan atau siswa untuk melihat dan membaca pesan-pesan visual pada pelbagai tahapan yang dimulai dari :

1)      Fase differensiasi, yaitu di mana siswa mula-mula mengamati, mengidentifikasi dan menganalisis terlebih dahulu unsur-unsur suatu unit pengajaran dalam bentuk pesan-pesan tersebut.
2)      Fase integrasi, yaitu dimana siswa menempatkan unsur-unsur visual secara serempak, menghubungkan keseluruhan pesan visual kepada pengalaman-pengalamannya ,dan
3)      Kesimpulan, yaitu dari pengalaman visualisasi untuk kemudian menciptakan konseptualisasi baru dari apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.[27]
Hasil penelitian Edmund Faison, dkk., dalam Nana Sudjana da Ahmad Rivai, tentang penggunaan gambar dan grafik (visual) dalam pembelajaran, disimpulkan:
1)      Terdapat dari beberapa hasil penelitian bahwa untuk memperoleh hasil belajar bagi pembelajar secara maksimal, yaitu:
a.       Gambar-gambar yang digunakan harus erat kaitannya dengan materi pelajaran,
b.      Gambar-gambar familier dengan siswa, dan
c.       Gambar yang digunakan ukurannya cukup besar, sehingga rincian unsur-unsurnya mudah diamati, sederhana, direproduksi bagus, lebih realistik, dan menyatu dengan teks.
2)      Terdapat bukti, gambar-gambar berwarna (selain warna hitam putih) lebih menarik minat siswa daripada gambar yang ditampilkan dengan warna hitam putih saja. Selain itu, daya tarik terhadap gambar juga bervariasi sesuai dengan umur, jenis kelamin, serta kepribadian siswa. Sekalipun demikian, gambar-gambar berwarna pun tidak selamanya merupakan pilihan terbaik, karena menurut hasil penelitian Seth Spaulding, mengatakan bahwa kualitas warna diperlukan untuk gambar-gambar yang sifatnya realistik.
3)      Hasil penelitian Rudisill, mengatakan gambar-gambar yang lebih disukai anak-anak menunjukkan bahwa suatu penyajian visual yang sempurna realismenya  adalah pewarnaan, karena pewarnaan pada gambar akan menumbuhkan impresi atau kesan realistik.[28]
E.       Macam-macam Media Pengajaran dan Beberapa Alat Bantu
Abdul Alim Ibrahim  mengemukakan beberapa media pengajaran sebagai berikut :

a.      Benda-benda aslinya ini dapat dipakai sebagai media dalam mengajarkan bahasa  untuk tingkat pemula  dana untuk kelas kecil contoh :
ساعة – علم – ثمرة – حكيبة – الخ                                                                    
b.      Contoh riil dalam bentuk patung / permainan seperti :
سيارة – بيت – تمثا ل  الخ                                                                            
c.       Gambar-gambar
d.     Peta
e.      Kartu
f.        Papan tulis
Untuk papan tulis ini, Alim Ibrahim mengatakan bahwa guru yang tidak tahu memanfaatkan papan tulis untuk dipakai sebagai media itu sama dengan setengah guru (يساوى نصف مدرس) artinya:          setengah guru hal ini dikarenakan papan tulis adalah suatu media (murah) yang dapat memanfaatkan indera lihat para siswa setelah mereka bosan dengan indera dengar, dan bahwasanya pemanfaatan dua indera lebih mantap dan terkesan ketimbang hanya satu indera.

g.      Kaset dan tape recorder.
Peter Hubberd. et. All  menyebutkan yang berikut ini sebagai alat bantu dan media pengajaran bahasa. Papan tulis Realita (obyek yang sesungguhnya yang dibawa ke kelas yang dapat ditangani dan dilihat oleh siswa),Flash Card (kartu gambar), Gambar-gambar majalah,Wall Cards (peta dinding),Tape recorder, Over head projector ( OHp)
Amir Aksan  membuat suatu klasifikasi dari media pengajaran sesuai dengan frekuensi penggunaan dan kemudahan pengadaannya. Diantaranya sebagai berikut:

a.       Bahasa
b.      Berbagai jenis papan
1)   Papan tulis
2)   Papan tempel / Pengumuman
3)   Papan Planel
4)   Papan kantong
c.       Gambar-gambar
1)      Stick figures
2)      Terbitan berkala
3)      Fotografi
d.      Bahan / media cetak (printed materials) Buku teks Terbitan berkala Lembaran lepas, Media Proyeksi,Projector sliders ,Projector Filmstrip, Ohp
e.       Media Elektronik, Tape recorder, Televisi, Video, Tape, Laboratorium, bahasa. [29]  media-media diatas sangat penting dalam pembelajaran seorang  pengajar dapat memilih media yang tapat dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pengajaran.

F.     Motivasi
1.    Pengertian Motivasi
Kata “motif”,  diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak  dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas  tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan). Berawal  dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.[30] Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama.[31]
Menurut McDonald, motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.
Perumusan ini mengandung tiga unsur yang saling berkaitan sebagai berikut :
1.      Motivasi dimulai dengan dari adanya perubahan energi dalam pribadi
2.      Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal)
3.      Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.[32]
Dalam kegiatan belajar, motivasi tentu sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi sendiri ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
-          Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
-          Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.[33]
2.      Macam-macam Motif
Pendapat mengenai klasifikasi motif itu ada bermacam-macam. Beberapa yang terkenal adalah seperti yang dikemukakan dibawah ini.
a.       Menurut Woodwort dan Marquis, motif itu dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
(1)   kebutuhan-kebutuhan organik, yang meliputi : kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat dan unuk istirahat.
(2)   motif-motif darurat, yang mencakup : dorongan untuk menyelamatkan diri, untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Dorongan ini timbul karena perangsang dari luar. Pada dasarnya dorongan-dorongan in telah ada sejak lahir, tetapi bentuk-bentuknya tertentu berkembang karena dipelajari.
(3)   motif-motif objektif, yang mencakup: kebutuhan-kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, untuk melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar (sosial dan non sosial ) secara efektif.
b.      penggolongan lain didasarkan atas terbentuknya motif-motif itu. Beradasarkan atas hal ini dapat dibedakan menjadi dua macam motif yaitu:
(1)    motif-motif bawaan, yaitu motif-motif yang dibawa sejak lahir, jadi ada tanpa dipelajari, seperti misalnya: dorongan untuk makan, untuk minum, dorongan untuk bergerak dan beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini seringkali disebut motif yang diisyaratkan secara bioligis, artinya ada dalam warisan biologi.
(2)    motif-motif yang dipelajari, yaitu motif-motif yang timbulnya karena dipelajari, seperti misalnya: dorongan untuk belajar sesuatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengejar suatu kedudukan dalam masyarakat dan sebagainya.
d.      ada juga ahli yang menggolongkan motif-motif itu menjadi dua macam atas dasar isi atau persangkut-pautannya, yaitu:
(1)   motif jasmaniah, seperti misalnya refleks, intrinsik, otomatisme, nafsu, hasrat dan sebagainya.
(2)   motif rohaniah, yaitu kemauan.[34]
3.      Fungsi Motivasi
Fungsi motivasi dari uraian di atas jelaslah bahwa motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Jadi fungsi motivasi itu adalah
1)      Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan  seperti belajar
2)      Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan
3)      Sebagai penggerak, ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.[35]
Dari beberapa uraian di atas, nampak jelas bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sebagai penggerak prilaku seseorang untuk mencapai tujuan. Guru merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara dan terutama memenuhi kebutuhan siswa.
Motivasi akan terangsang karena adanya tujuan jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang / terdorong oleh adanya unsur lain dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
4.      Strategi Menumbuhkan Motivasi
Ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yakni :
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.
2.      Hadiah
Berikan untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun
5.      Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.      Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik
7.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8.      Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok)
9.      Menggunakan metode yang bervariasi
10.  Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.[36]
11.  Sarkasme
Ialah dengan jalan mengajak para siswa yang mendapat hasil belajar yang kurang. Dalam batas-batas tertentu sarkasme dapat mendorong kegiatan belajar demi nama baiknya, tetapi dipihak lain dapat menimbulkan sebaliknya, karena siswa merasa dirinya dihina, sehingga memungkinkan timbulnya konflik antara siswa dan guru.
12.  Penilaian
Penilaian secara kontinu akan mendorong murid-murid belajar, oleh karena setiap anak memiliki kecenderungan untuk memperoleh hasil yang baik. Di samping itu, para siswa selalu mendapat tantangan dan masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorongnya belajar lebih teliti dan saksama.
13.  Karyawisata dan ekskursi
cara ini dapat membangkitkan motivasi belajar oleh karena dalam kegiatan ini mendapat pengalaman langsung dan bermakna baginya. Selain dari itu, karena objek yang akan dikunjungi adalah objek yang menarik minatnya. Suasana bebas, lepas dari keterikatan ruangan kelas besar manfaatnya untuk menghilangkan ketegangan-ketegangan yang ada, sehingga kegiatan belajar dapat dilakukan lebih menyenangkan.
14.  Film pendidikan
Setiap siswa merasa senang menonton film. Gambaran dan isi cerita film lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar.
15.  Belajar melalui radio
Mendengarkan radio lebih menghasilkan daripada mendengarkan ceramah guru. Radio adalah alat yang penting untuk mendorong motivasi belajar murid.[37]
Tiap peserta didik memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca, dan sebaliknya. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian anak misalnya, guru dapat memulai dengan berbicara lebih dulu, kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti itu, maka diharapkan dapat memberi stimulus terhadap indera peserta didik.

G.     Peranan Media dalam Meningkatkan Motivasi Belajar
Peranan media dalam meningkatkan motivasi belajar adalah adanya hasil penelitian yang menunjukkan dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pendidikan di kelas atau sebagai cara utama pendidikan langsung yaitu :
1.        Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan yang sama. Meskipun guru menafsirkan pelajaran dengan cara yang berbeda-beda. Dengan penggunaan media ragam hasil tafsiran itu dapat dikurangi sehingga informasi yang sama dapat disampaikan kepada pelajar sebagai landasan untuk pengkajian latihan dan aplikasi lebih lanjut.
2.      Pendidikan bisa lebih menarik media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian atau membuat pelajar tetap terjaga dan memperhatikan kejelasan dan keruntutan pesan daya tarik image yang berubah-ubah,  penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingintahuan menyebabkan pelajar tertawa dan berfikir yang kesemuanya menunjukkan bahwa media memiliki
aspek motivasi dan meningkatkan minat, Sudjana dan Rifai
mengemukakan manfaat media pembelajaran yaitu :
a.      Pembelajaran akan lebih menarik perhatian pelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar,
b.      Bahan pendidikan  akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh pelajar dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pendidikan,
c.       Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga pelajar tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
d.     Pelajar dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melakukan. Diantara manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar  adalah sebagai berikut :
a)      Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
b)        Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak didik sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara pelajar dan lingkungannya dan kemungkinan pelajar untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya masing-masing[38].
Hubungan media dan motivasi belajar yaitu fungsi media sebagai pembangkit rasa senang dalam belajar, mempermudah dan memperjelas pesan yang disampaikan sehingga dengan penggunaan media yang sesuai dengan faktor yang berhubungan dengan pembelajaran, Baik yang menyangkut penggunaan media yang efisien dan lain-lain adalah merupakan indikator keberadaan media sebagai alat bantu dalam  meningkatkan motivasi belajar.



H.      Media dan Sarana Pengajaran Bahasa Arab
Pengajaran bahasa Arab memerlukan berbagai sarana agar proses belajar mengajar berjalan lancar. Jika proses berlangsung lancar maka keberhasilan murid bisa diharapkan. Dalam pengajaran bahasa Arab di perlukan beberapa sarana atau media pengajaran bahasa Arab . Sarana atau media pengajaran bahasa Arab sangat banyak. Diantara beberapa media pengajaran bahasa Arab antara lain:
a.      Buku Paket Pelajaran Bahasa Arab
Buku paket pelajaran Bahasa Arab sebagai standar untuk tingkat pendidikan MTS, MA, PGAN dan lain-lain. Buku paket merupakan buku yang telah disusun oleh para ahli  dan disesuaikan dengan kurikulum.
Buku paket merupakan buku pedoman guru yang digunakan untuk mengajarkan Bahasa Arab pada setiap jam pelajaran dan dinamakan juga buku pegangan merupakan kompas bagi para guru. Guru diperkenankan menggunakan buku-buku lain minimal isinya sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan, sesungguhnya guru tidak hanya menggantungkan pada buku paket melainkan berkewajiban menambah berbagai buku yang ada kaitannya dengan pelajaran bahasa Arab yang diemban sehingga murid memiliki pemahaman yang lebih luas.[39] buku paket pengajaran bahasa Arab dapat berfungsi sebagai buku pegangan bagi guru dan murid sehingga murid diharuskan memiliki buku paket.
b.      Benda sebenarnya
Benda sebenarnya merupakan sarana yang amat penting, adalah alat peraga langsung yang akan mudah terkesan dalam pikiran murid jika benda sulit di dapat maka guru dapat memakai benda tiruan.
Untuk menanamkan pemahaman dalam pikiran anak didik kita di perlukan benda-benda yang sebenarnya  banyak sekali di alam sekeliling kita misalnya kursi sambil memegang kursi atau Al-Miftah sambil menunjukan kunci dan sebagainya.[40]dalam penggunaan media seperti ini memerlukan sarana efisien dan mudah diperoleh sehingga itu seyogyanya seorang guru dituntut untuk melakukan hai ini dalam pengajaran.
c.       Gambar
Gambar digunakan sebagai alat peraga mengajar terhadap hal-hal yang tidak mungkin dihadirkan misalnya Al Bahru (laut ), Al -Haul (telaga) dan sebagainya. Menggunakan gambar akan lebih terkesan dari pada hanya kata-kata. Menggunakan gambar foto-foto lebih bagus daripada hanya menggunakan kata-kata karena dapat menimbulkan verbalisme dimana kata itu didengar tetapi tidak dapat digambar misalnya Tuhan, alam ghoib, ruh, nabi dan sebagainya jika gambar akan dapat merusak keimanan maka guru dalam menyajikannya dituntut dalam sikapnya yang arif dan bijaksana.
Guru dalam menggunakan alat peraga bisa dengan sampel artinya menampilkan sebagian tanpa keseluruhan misalnya Ar-Ruz (nasi), Ar-Romlu (pasir) dan sebagainya sedangkan al-kitab dan Al-Qolam dan sebagainya tidak bisa ditampilkan kecuali dengan menunjukan wujud barang tersebut secara total bukan hanya tutup dan sampulnya saja, berbagai model bisa digunakan sebagai alat peraga misalnya Asy- Syarukh (roket), As- Safinah Al-Jawiyyah (satelit) dan sebagainya. Model merupakan tiruan bentuk aslinya amat menarik.[41] Dalam penyampaian lewat gambar atau foto-foto memberikan kesan yang menyeluruh terhadap obyek yang ditampilkan sehingga memperkuat daya tangkap terhadap materi serta menimbulkan rasa senang serta kemudahan dalam memahami materi.
d.      Kaset Bahasa Arab
Kaset bahasa Arab berisi bagaimana belajar bahasa Arab lewat kaset di dalamnya berisi muhadatsah, muthala'ah dan sebagainya kelemahan belajar lewat kaset dalam kelas maupun di luar kelas sulit dipahami akan tetapi dengan bimbingan guru mereka akan sukses.[42]
Semua sarana tersebut merupakan sarana pokok penunjang atas keberhasilan belajar bahasa Arab. Fasilitas memadai berpengaruh dalam menentukan metode mengajar. Tanpa fasilitas yang cukup guru akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun sarana tidak dapat dipisahkan dengan metode pengajaran Bahasa Arab. Walaupun tanpa fasilitas guru bisa juga mengajar tetapi hanya bisa menggunakan metode yang amat terbatas sehingga hasilnya akan amat sangat minim.
Semua sarana pengajaran bahasa Arab jika digunakan dengan benar akan memperoleh hasil maksimal. Guru memeragakannya dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pengetahuan bagi dirinya maupun murid, hal itu akan cepat membawa  mereka mampu berdiri sendiri.[43] Dengan  penggunaan media pembelajaran secara efisien dan optimal dapat memudahkan siswa dalam proses pembelajarannya, membantu guru dalam mewujudkan proses pengajaran yang baik serta keberhasilan dalam mencapai indikator pembelajaran siswa.     















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Media pembelajaran adalah sarana pendidikann yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efesensiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian yang lebih luas media pembelajaran adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas.
2.      Tujuan Media Pembelajaran sebagai alat bantú pembelajaran, adalah sebagai berikut : Mempermudah proses pembelajaran di kelas, meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan membantu konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran.
3.      Manfaat Media Pembelajaran sebagai alat bantú dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut : Pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat di pahami pembelajar, serta memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran dengan baik, metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, siswa tidak bosan, dan guru tidak kehabisan tenaga, siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya medengarkan penjelasan dari guru saja, tetapi juga aktivitas lain yang  dilakukan seperti : mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
4.      Ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yakni: Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik, hadiah, saingan/kompetisi, Pujian, hukuman, Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar, Membentuk kebiasaan belajar yang baik, membantu kesulitan belajar peserta didik, menggunakan metode yang bervariasi, menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, sarkasme ialah dengan jalan mengajak para siswa yang mendapat hasil belajar yang kurang, penilaian, karyawisata dan ekskursi, film pendidikan, belajar melalui radio.
5.      Media pembelajaran itu  paling besar pengaruhnya bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya.Media pembelajaran dapat membangkitkan rasa senang dan gembira bagi siswa/ peserta didik dan memperbaharui semangat mereka, rasa suka hati mereka untuk ke  sekolah akan timbul, dapat memantapkan pengetahuan pada benak siswa, menghidupkan pelajaran karena pemakaian media pembelajaran membutuhkan gerak dan karya.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Hasyimi, Ahmad, Al-Qawa’id Al-Asasiyah Li Al-Lugah Al-Arabiyya, Cet. X; Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1354 H.
Al-Mannawi, Faid Al-Qodir Syarh Al-Jami’ As-Shogir, Beirut: Dar al-Jail, 1976.
Arsyad, Azhar,  Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar ,2004
_____________, Media Pembelajaran, Cet. XIII; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010.
Departemen Agama RI,  Alqur’an dan Terjemahnya, Bandung : CV. Diponegoro,  2005.
Fachrudin,  Teknik Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab, Cet.I;  Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006.    
Fathurahman, Pupuh & Sutikno,Sobry, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007.
Giling, Mustamin T, Media pembelajaran (diktat)(Makassar: FAI UMI.2007).
Hamalik, Oemar, Media Pendidikan,Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1989.
Ibrahim, Abdul Alim, Al-Muwajjih al-Fanni Li Mudarrisi al-Lugah al-Arabiyyah, Cet. X; Al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 1978.
Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Cet. II; Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003.
Sitti Jasmirah, Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab, MAN 2 Model, 2006-2007.
Sadiman, Arif S, dkk.,  Media Pendidikan, Jakarta: CV. Rajawali, 1984.
Sadiaman, Arief S., dkk., Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan,dan Pemanfaatannya , Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008.
Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad, Media Pembelajaran, Penggunaan dan Pembuatannya, Bandung: CV. Sinar Baru, 1991.
Sanaky, Hujair AH, Media Pembelajaran Buku Pegangan Wajib Guru dan Dosen, Cet. I; Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2011.
Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Cet. VII; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.
Santrock, John W, Psikologi Pendidikan, Cet.II; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Cet. VI;  Jakarta: CV Rajawali, 1991.
Taufiq, Muhammad Syahin, ‘Awamil Tanmiyyah al-Lugah al-‘Arabiyyah, Al-Qahirah: Matba’ ad-Da’wah al-Islamiyyah, 1980
Tim Dosen FIP-IKIP Yogyakarta, Bacaan Wajib, Media Pembelajaran, Diktat, Yogjakarta, 1992.
Yunus, Mahmud,  At-Tarbiyah Wat-Ta’lim, Padang Panjang: Matba’ah, 1942


1Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2004), h. 1.
[2] Muhammad Syahin Taufiq, ‘Awamil Tanmiyyah al-Lugah al-‘Arabiyyah, (Al-Qahirah: Matba’ ad-Da’wah al-Islamiyyah, 1980),  h.35.
[3] Ahmad Al-Hasyimiy, Al-Qawa’id Al-Asasiyah Li Al-Lugah Al-Arabiyyah. (Cet. X; Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1354 H), h. 4.
[4] Departemen Agama RI,  Alqur’an dan Terjemahnya  (Bandung : CV. Diponegoro,  2005)   h. 235.
[5] Al-Mannawi, Faid Al-Qodir Syarh Al-Jami’ As-Shogir, (Beirut: Dar al-Jail, 1976), h. 178.
[6] Abdul Alim Ibrahim, Al-Muwajjih al-Fanni Li Mudarrisi al-Lugah al-Arabiyyah, (Cet. X; Al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 1978), h. 48.
[7]Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2004),. , h. 15.
[8] Sitti Jasmirah, Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab (MAN 2 Model, 2006-2007) h. 25.
[9] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran  (Cet. XIII; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 15.
[10] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Cet. XIII; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010) h. 21.
[11] Arif S Sadiman dkk,  Media Pendidikan (Jakarta CV. Rajawali, 1984) h. 7.

[12] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet. II,Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003), h. 103.
[13] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Cet. VI;  Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005),   h. 4.
[14] Arief S. Sadiman, dkk., Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan,dan Pemanfaatannya , (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h 7.
[15] Tim Dosen FIP-IKIP Yogyakarta, Bacaan Wajib, Media Pembelajaran, Diktat, Yogjakarta, 1992,  h. 5.
[16] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1989),  h.12..
[17] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pembelajaran, (Penggunaan dan Pembuatannya), (Bandung: CV. Sinar Baru, 1991), h. 2.
[18] Hujair AH Sanaky, Media Pembelajaran Buku Pegangan Wajib Guru dan Dosen, (Cet. I; Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2011),  h. 5
[19] Arief S. Sadiman,  dkk., Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan,dan Pemanfaatannya , (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h. 17-18.
[20] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1989),  h. 6.
[21] Hujair AH Sanaky, Media Pembelajaran Buku Pegangan Wajib Guru dan Dosen, (Cet. I; Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2011),  h. 6
[22] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004), h. 75.
[23] Mahmud Yunus,  At-Tarbiyah Wat-Ta’lim, (Padang Panjang: Matba’ah, 1942), h. 78.
[24] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004), h. 76.
[25] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Cet. XIII; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 16-17
[26] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pembelajaran (Penggunaan dan  Pembuatannya), (Bandung: CV. Sinar Baru, 1991), h.11.
[27] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pembelajaran (Penggunaan dan  Pembuatannya), (Bandung: CV. Sinar Baru, 1991),
[28] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pembelajaran (Penggunaan dan  Pembuatannya), (Bandung: CV. Sinar Baru, 1991), h. 12-13.
[29] Azhar Arsyad,  Bahasa Arab Metode dan Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 79.

[30] Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Cet. VII; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000), h. 71.
[31] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, (Cet.II; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h.510.
[32] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Cet.IV; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2004), h. 173-174.
[33] Pupuh Fathurrohman & Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 19-20.
[34] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Cet. VI;  Jakarta: CV Rajawali, 1991), h. 70-73.
[35] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Cet.IV; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2004), h. 175.
[36] Pupuh Fathurrohman & Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h.. 21
[37] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Cet. III, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004), h. 167-168.
          [38] Mustamin T Giling, Media pembelajaran (diktat)(Makassar: FAI UMI.2007), h. 21.
          [39] Fachrudin,  Teknik Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab (Cet.I;  Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006) h. 144 .    
         [40] Fachrudin,  Teknik Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab (Cet.I;  Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006)
       [41] Fachrudin,  Teknik Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab (Cet.I;  Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006)  h.145.
       [42] Fachrudin,  Teknik Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab (Cet.I;  Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006)  
       [43] Fachrudin,  Teknik Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab (Cet.I;  Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006) h.147. 


EmoticonEmoticon